
DI TENGAH kekeringan, sulit air dan antri BBM, ada juga sesuatu yang “menghibur” warga Balikpapan. Lagi viral di media sosial. Di beberapa jalan dan kompleks pemukiman di kota ini lagi dihias dengan pohon pelindung yang penuh bunga. Pohon berbunga itu namanya tabebuya. Ada yang bilang mirip sakura seperti di Jepang. Memang indah dan romantis.
Kalau mau melihat langsung lintasi saja Jalan Mayjen Sutoyo. Kawasan ini dikenal dengan nama Gunung Malang. Di sana puluhan pohon tabebuya lagi berbunga. Ada yang putih, ada yang pink. “Serasa lagi musim bunga di Jepang,” komentar seorang netizen.
Tabebuya ada juga di kawasan Jln Jend Sudirman dan Jl A Yani. Sepanjang Karang Jati sampai Gunung Sari didominasi tabebuya berbunga kuning. Ada ratusan pohon.

Di kompleks perumahan Balikpapan Baru dan Balikpapan Regency juga ada tabebuya. Malah yang di Regency, tabebuya ada di kluster deRoyale, tempat saya tinggal. Jadi setiap hari saya menikmati keindahan tabebuya. Hanya saja saya lihat tukang bersih taman atau trotoar yang kewalahan menyapu bunga yang gugur.
Nama ilmiah tabebuya adalah Handroanthus chrysotruchus. Pohon ini berasal dari Amerika Selatan terutama Brazil. Karena cocok dengan iklim topis, tanaman hias ini kemudian menyebar luas ke berbagai belahan dunia termasuk ke Indonesia.
Beberapa kota besar lebih dulu menanam tabebuya. Seperti Jakarta dan Surabaya. Karena tabebuya pink banyak ditanam di Surabaya, maka ada yang menyebut “Sakuranya Surabaya.” Sejak era saya jadi wali kota, tabebuya sudah kita tanam. Ada juga yang baru di beberapa ruas jalan.

Pohon tabebuya punya beberapa kelebihan. Selain bunganya yang indah dan rimbun, daunnya juga tak mudah rontok. Sementara akarnya tidak merusak rumah atu tembok walau berbatang keras dan besar.
Ada beberapa jenis tabebuya yang populer di Indonesia. Dibedakan berdasarkan warna bunganya yang menyerupai terompet. Di antaranya tabebuya kuning (Handroanthus chrysotrichus/Tabebuia aurea). Memiliki bunga berwana kuning cerah seperti matahari. Jenis ini merupakan salah satu yang paling cepat mekar.
Kemudian ada juga tabebuya pink (Tabebuia rosea). Jenis ini yang seringkali disebut “Sakura.” Gradasi warnanya mulai dari pink muda hingga pink tua.
Selanjutnya ada tabebuya putih (Tabebuai roseo-alba/Tabebuai pallida). Memiliki kelopak bunga berwarna putih bersih atau putih keunguan, memberikan kesan yang elegan dan minimalis.
Selain itu, ada juga tabebuya magenta & ungu. Memiliki warna bunga yang lebih pekat mencolok antara ungu terang hingga magenta.
Sulitkah menanam tabebuya? Sebenarnya tidak. Bisa melalui biji yang jatuh dari pohonnya, bisa melalui stek batang. Bisa juga membeli ke depot tanaman hias atau memesan lewat online.
Bagi warga Balikpapan, PPU, Samarinda dan Tenggarong yang ingin mendapatkan bibit tabebuya gratis, bisa datang ke Pusat Persemaian Mentawir, tak jauh dari lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Itu pusat persemaian seluas 120 hektare milik Kementerian Kehutanan di era Menhut Prof Siti Nurbaya.

Pada tanggal 4 Juni 2024, Presiden Jokowi datang secara langsung untuk meresmikan. Persemaian Mentawir dibangun untuk mendukung program forest city IKN.
Dari Persemaian Mentawir diproduksi 15 juta bibit pohon per tahun. Ada bibit pohon endemik seperti Meranti, Ulin, Sungkai, Kapur, Tengkawang dan Bengkirai. Ada juga bibit pohon pelindung dan buah-buahan seperti jambu, mangga, durian, cempedak, manggis, pucuk merah, flamboyant, tanjung, salam dan tabebuya. “Silahkan datang ke Mentawir, bibitnya kita kasih gratis,” kata seorang petugas.

BUGENVIL JUGA BERBUNGA
Selain tabebuya, bunga lain yang juga mekar di musim kemarau adalah bugenvil (Bougainvillea spectabillis). Bugenvil bisa kita lihat banyak menghiasai pekarangan rumah atau di median jalan.
Saya lihat bugenvil hampir ada di semua median dan trotoar jalan di Balikpapan. Tapi tidak banyak yang tumbuh subur dengan bunga yang menarik. Di Jalan A Yani, ada beberapa pot bugenvil yang sukses berbunga cukup rimbun.
Seperti tabebuya, bugenvil juga berasal Amerika Selatan terutama dari negara Brazil, Peru dan Argentina. Nama bugenvil diambil dari nama seorang penjelajah asal Prancis bernama Louis Antoine de Bougainville. Dia menemukan di Brazil lalu dibawa ke Eropa pada abad ke-18.
Menyaksikan deretan bugenvil indah dengan beberapa warna kalau kita melintas di jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Cantik sekali. Bugenvil juga ditanam di median beberapa ruas jalan tol Samarinda-Balikpapan. Tapi saya kaget, ketika melintas beberapa hari lalu sebagian mati. Apa terpengaruh api dan asap dari kebakaran hutan yang terjadi di kiri kanan jalan tersebut?
Bugenvil disebut juga bunga kertas. Mungkin karena kelopak bunganya tipis seperti kertas. Sekarang bunganya tidak berwarna merah saja, tetapi ada juga yang putih dan kekuning-kuningan. Setidaknya ada 9 jenis bugenvil yang terbilang populer. Mulai jenis Glabram, California Gold, Mrs Eva, Cherry Blossom, White, Orange Ice, Royal, Striata sampai Vera Depp Purple.

Para penjual bunga hias di kawasan Jalan Ruhui Rahayu mengaku tadinya bugenvil tidak terlalu laku. Tapi sekarang bugenvil sangat laris. Sepertinya warga tergoda melihat aneka wana bugenvil. Ada yang merah, pink, putih dan kuning.
Ada juga bugenvil yang sukses dipersilangkan. Sehingga bunganya di satu pohon dengan beberapa warna. Harganya juga cukup mahal. “Bugenvil dengan beberapa warna kita jual Rp1 juta,” kata Ibu Rubainah, penjual bunga di Ruhui Rahayu.
Menanam bugenvil sangat mudah terutama dengan metode stek batang. Potong batang bugenvil yang sehat dan setengah tua (warna kecoklatan) sepanjang 20-30 cm. Lalu tancapkan sedalam 5-10 cm ke media tanam. Untuk merangsang akar bisa dioleskan bawang merah di pangkal batang.
Suburnya tabebuya dan bugenvil mudah-mudahan memberi semangat kepada warga kota. Biar hatinya berbunga-bunga, meski kesusahan air bersih, antri BBM dan sesak nafas karena asap karhutla.(*)
