Gubernur “Di Atas Angin”

Lima gubernur se Kalimantan yang disorot netizen dalam soal penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

TIDAK gampang jadi pejabat publik. Sebagian hak privacy harus ditanggalkan. Karena itu sudah menjadi tuntutan masyarakat. Mereka juga harus memiliki kepekaan sosial dan empati yang tinggi.

Kepekaan sosial itu sendiri adalah kemampuan untuk peka, peduli, dan cepat tanggap terhadap kondisi sosial di sekitar kita – mampu merasakan apa yang orang lain rasakan, memahami situasi, dan bertindak dengan tepat untuk membantu atau tidak merugikan orang lain.

Mengutip analisis AI, setidaknya ada 3 hal yang menjadi ciri kepekaan sosial.  Secara kognitif, mampu membaca situasi – paham kapan ada pertimbangan, konflik, atau orang lain butuh bantuan, meski tidak diucapkan.

Secara efektif, punya empati – ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain, bukan cuek atau masa bodoh.

Sedang sacara perilaku, ada tindakan nyata – membantu, menegur ketidakadilan, atau menyesuaikan sikap agar tidak menyakiti orang lain.

Bagi pejabat publik yang tidak kaya pengalaman dan wawasan, bisa jadi kepekaan sosial yang dimiliki dalam dirinya tidak sama dengan ukuran orang lain yang berlaku umum. Bahkan bisa jadi dia kita sebut orang yang masuk kategori tumpul sosial.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud harus tahu itu. Dari beberapa kejadian, dia termasuk orang yang punya ukuran beda dengan yang dimiliki masyarakat. Kita memaklumi selama ini dia hidup enak di atas bisnis minyaknya, jadi secara tidak sadar gaya dan pandangan hidupnya jauh beda dengan rakyat biasa.

Ketika dia bilang membeli mobil dinas mewah seharga Rp8 miliiar adalah untuk menjaga marwahnya Kaltim, semua orang terkesima termasuk Presiden Prabowo. Sebab, orang banyak mengukur “marwah” itu kebalikan dari pandangan Gubernur.

Kalau Gubernur tidak menghambur-hamburkan uang APBD untuk hal-hal yang tidak produktif, itu baru namanya menjaga marwahnya Kaltim. Kalau Gubernur konsisten dengan program Gratispol-nya, itu juga marwahnya Kaltim. Kalau Gubernur tidak nepotisme dan tidak main proyek, itu juga membuat harum marwahnya Kaltim.

Minggu lalu Gubernur dan keluarga “ketahuan” ke Singapura. “Si Noni Belanda” ikut, kata netizen. Setelah ramai digunjing netizen, baru ada penjelasan bahwa itu dalam rangka cek kesehatan dan sudah mendapat izin Mendagri. Tapi sebagian netizen masih tidak percaya, jangan-jangan Pak Gub ke Singapura hanya ingin nonton F1 atau healing saja.

Foto viral Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama istri, Sarifah Suraidah ketika sarapan pagi di Marina Bay Singapura.(Ist)

Karena itu ada ada netizen yang bercanda. “Siapa yang menang di F1 Singapura ya Pak Gub?,” tanyanya menggelitik. Kalau tak salah Gubernur memang menginap di Marina. Itu memang arena Formula One. Makanya di sana disebut Sirkuit Jalan Raya Marina Bay.

Orang mempersoalkan Gubernur ke Singapura, karena kondisi di daerah lagi prihatin. Terutama berkaitan dengan bencana asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang belum bisa diatasi secara tuntas. “Warganya lagi megap-megap, kok Gubernur dan keluarga enak-enakan ke luar negeri,” begitu sebagian komentar para netizen.

Lagi pula kalau cuma medical check-up (MCU) kurang apa canggihnya RSU Abdul Wahab Syahranie (AWS). Mungkin takut ditagih tunjangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Nakes yang belum dibayar ya? Padahal ini sudah buan Oktober. Jangan RSUD AWS hanya dilirik dari aspek pengadaan alkes-nya saja. “Bertobat dulu baru berobat Pak Gub,” sindir netizen lain.

Sebelumnya Gubernur Rudy Mas’ud juga disorot ketika rapat karhutla dia tidak berada di tempat. Termasuk juga dua kali kunjungan Menhut ke Kaltim, dia juga berada di luar daerah.

Dia juga sempat melontarkan pernyataan bahwa kualitas udara di Kaltim masih “aman terkendali,” padahal kenyataannya sudah tidak sehat. Dan akhirnya sekolah ditutup. Anak-anak belajar di rumah dan warga harus pakai masker.

Netizen juga mempersoalkan instruksi Gubernur Rudy Mas’ud agar dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bankaltimtara diarahkan untuk mendukung penanganan karhutla terutama pembiayaan operasional relawan.

Menurut warga, sangat tidak tepat dana CSR Bankaltimtara di arahkan ke sana. Kalau mendukung UMKM yang terkena dampak karhutla itu masih oke. “Kalau untuk operasional relawan, harusnya dari perusahaan tambang, perkebunanan kelapa sawit dan hutan, itu lebih tepat,” kata netizen.

Ada tulisan menarik di grup WA. Judulnya: “Kemana Tanggung Jawab Korporasi Besar ketika Hutan dan Lahan Kalimantan Terbakar?”

SAMA SE KALIMANTAN

Banyak yang menilai hampir semua gubernur se Kalimantan sama kelakuannya. Bergaya hidup “di atas angin.” Tidak punya kepekaan sosial dan empati terutama berkaitan dengan bencana karhutla pada saat ini.

Istri Gubernur Kalteng, Aisyah Thisia Halijam ketika mengikuti acara fashion show di Jakarta.(Ist)

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran sudah dinilai belepotan menjelaskan penanganan karhutla, ditambah lagi kelakuan si cantik istrinya, Aisyah Thisia Halijam. Aisyah mantan model dan pemenang ajang kecantikan yaitu Putri Nusantara 2019 dan Putri Pariwisata Kalteng 2020.

Setidaknya ada dua kali orang menyorot Gubernur dan sang istri. Ketika Aisyah berulangtahun, ramai-ramai Kepala Dinas membuat ucapan selamat. Selain itu Aisyah dengan pedenya ikut peragaan busana di Jakarta, sementara di daerah warga Kalteng berjuang melawan karhutla.

Agustiar juga disorot karena mengeluarkan ucapan bernada candaan. “Cara melawannya ya dengan kebersamaan….karena bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi,” begitu katanya ketika ditanya solusi penanganan karhutla.

Undangan perayaan 37 tahun perkawinan Gubernur Kalsel H Muhidin dengan Hj Fathul Jannah.

Gubernur Kalsel Muhidin juga sempat membuat pernyataan seakan-akan kondisi karhutal di daerahnya tidak terlalu parah.  Setelah dikritik habis-habisan oleh warga, akhirnya Muhidin meminta maaf.

Tapi dia bersama istrinya, Hj Fathul Jannah juga disorot tajam gara-gara menggelar perayaan ulang tahun pernikahan ke-37 (Coral Wedding Anniversary). Hal ini dinilai tone-deaf alias kurangnya empati dan kepekaan sosial di saat warga Kalsel menghadapi dampak buruk karhutla.

Sementara itu Gubernur Kalbar Ria Norsan sempat ngotot-ngototan dengan Aliansi Mahasiswa Kalbar yang mempersoalkan penanganan karhutla. Malah dia sempat menghardik dan menyindir mahasiswa. “Apa mahasiswa ada yang turun memadamkan api,” tanyanya dengan suara keras.

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran bersama istrinya, Aisyah Thisia Halijam yang jadi bahan sorotan netizen.

Satu-satunya gubernur di Kalimantan yang agak dimaklumi netizen adalah Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang. Dia menjelaskan kondisi yang dihadapinya dalam penanganan karhutla. Zainal mengakui keterbatasan alat dan anggaran, tetapi tetap turun ke lapangan untuk memadamkan api.

Saya membaca ada unggahan tegas dari seorang netizen. Dia bilang sekarang kita sudah tahu kualitas gubernur di Kalimantan. Hampir semuanya tak sesuai harapan. “Karena itu jangan lagi dipilih 2029 nanti,” begitu ajakannya.(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *