Orang Kaltim Tumbang Lagi

Ilustrasi yang dibuat Arusbawah hasil pemilihan Rektor Unmul di tingkat Senat.

ORANG Kaltim harus sadar dan berkaca diri. Daerah ini tidak saja dikuras hasil sumber daya alam (SDA)-nya, tapi juga dipinggirkan dari aspek sumber daya manusia (SDM)-nya. Tentu ini musibah besar yang harus disikapi secara serius kalau kita masih ingin dihitung keberadaannya.

Kekalahan Prof Abdunnur dalam pemilihan Rektor Unmul 2026-2030 contoh terbaru. Dia putra daerah kelahiran Kabupaten Bulungan. Ayahnya alm KH Sabranity, ulama besar berdarah Banjar di Samarinda. Dia “dikerjai,” sehingga harus tumbang.

Dalam pemilihan tingkat Senat, 8 September 2026,  Abdunnur meraih 65 suara. Jauh unggul dari Prof Rudianto Amirta yang mendapat 24 suara. Tapi dalam pemilihan tahap ke-2 pada 30 September 2026, Rudianto di luar dugaan unggul 10 suara. Total suara yang dia raih 74 suara, sedang Abdunnur 64 suara.

Kemenangan Rudianto karena mendapat gelontoran suara multak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).  Sesuai regulasi, dalam pemilihan rektor, ada jatah 35 persen atau setara 48 suara untuk Kementerian.

Rasanya tak masuk akal Kemendiktisaintek sama sekali tidak melihat prestasi yang dicapai Abdunnur sebagai Rektor Unmul 2022-2026. Di bawah kepemimpinannya, Abdunnur berhasil membawa Unmul mendapatkan akreditasi Unggul.

Akreditasi Unggul adalah peringkat akreditasi tertinggi untuk perguruan tinggi atau program studi di Indonesia yang melampaui standar nasional.

Abdunnur juga terpilih dan masuk dalam jajaran 10 Rektor Paling Berpengaruh di Indonesia. Tentu ini prestasi yang membanggakan di tengah ratusan rektor lainnya yang juga berprestasi.

Dalam Tata Kelola Keuangan, Abdunnur membawa Unmul berhasil mendapatkan opini keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) berturut-turut 4 tahun. Juga berhasil memperoleh peringkat “A” untuk Sistem Akuntabilitas Kinerja Institusi Pemerintah (SAKIP) serta peringkat “A” untuk Indeks Kinerja Perencanaan Anggaran (IKPA).

Kita tak pernah dengar Abdunnur membuat kesalahan fatal dalam memimpin Unmul. Suasana kampus selama ini berjalan guyub dan dinamis. Tri civitas dan kampus Gunung Kelua berlangsung harmonis dan hangat.

Abdunnur juga pandai bersosialisasi. Hobi nyanyi dan mancing. Buktinya dia diangkat menjadi menjadi Ketua Dewan Kebudayaan Nusantara Kaltim. Bahkan dia mendapat anugerah gelar Raden Panji Cokro Negoro dari Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin.

Jadi kemungkinan besar Abdunnur tumbang karena alasan politis seperti sudah saya tulis sebelumnya. Ini yang membuat Kemendiktisaintek seperti gelap mata. Pertemuan Rudianto dengan Budisatrio Djiwandono beberapa waktu sebelum pemilihan rektor sepertinya bisa menjelaskan cerita di balik semua ini. Budisatrio adalah anggota DPR RI dari dapil Kaltim.

Background Budisatrio bukan orang sembarangan di negeri ini. Dia putra Sudrajad Djiwandono, mantan Gubernur BI. Dia juga keponakan Presiden Prabowo Subianto. Karena itu dia dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra. Dia juga didaulat menjadi Ketua Fraksi Partai Gerindra dan Wakil Ketua Komisi I DPR RI.

Kalau ada yang tidak puas hasil pemilihan Rektor Unmul tentu wajar. Ada aroma ketidakadilan yang merebak. Negeri Konoha memang lagi sakit. Virus yang ditularkan tidak menjungjung tinggi kebenaran.

Kekalahan Isran Noor-Hadi Mulyadi dalam Pilgub Kaltim 2024 juga kekalahan orang daerah. Padahal dia mengusung isu yang sangat penting  dan strategis buat daerah ini. “Kaltim Berdaulat.”

Sekarang orang baru tahu tahu mengapa “Kaltim Berdaulat” sangat perlu dikibarkan. Bukan Kaltim Merdeka, bukan Kaltim yang rakyatnya bisa dibayar 100 sampai 200 ribu rupiah pada waktu pemilihan. Tapi benar-benar “Kaltim Berdaulat.” Di mana Kaltim punya kedaulatan yang besar mengelola atau memanfaatkan SDA-nya untuk kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Kaltim. Ini tuntutan logis dari rakyat Kaltim.

Masa Kaltim yang banyak migasnya harus antri BBM. Banyak batu baranya tapi harus mati hidup listriknya. Banyak menyumbang untuk kas negara,  tapi harus mengemis karena uang yang didapat dari Pemerintah Pusat dipangkas habis-habisan.

Sekarang orang Kaltim baru tahu dan sadar bahwa Isran-Hadi lebih tulus bekerja untuk daerahnya. Meski orang daerah mereka tak menyemai unsur nepotisme. Tidak menjadi pejabat yang bermewah-mewahan. Isran malah tak mau tinggal di rumah dinas. Dia juga tidak main proyek atau mengembangkan usaha untuk kepentingan diri dan keluarga serta kroninya.

Jika Kaltim Berdaulat berhasil, kata Isran, Kaltim mampu membiayai pembangunan IKN yang membutuhkan dana sekitar Rp460 triliun. Sebab pendapatan Kaltim dari batu bara saja bisa mencapai Rp800 -an triliun per tahun.

BANK KALTIM DAN MAKMUR

“Tradisi” manajemen Bankaltimtara dikomandani orang daerah juga diobrak-abrik. M Yamin, Dirut Bankaltimtara yang belum habis masa jabatannya ditendang keluar. Demikian juga jabatan komisaris utama (Komut) yang dipegang Zainudin Fanani tidak diberi kesempatan untuk menjabat sekali lagi.

Kedua-duanya orang daerah. Dirut Kaltim sebelum Yamin juga orang daerah, di antaranya Aminuddin dan Zainudin Fanani. Mereka sukses dan kerap mendapatkan penghargaan berskala nasional.

Sekarang Dirut Bankaltimtara dipimpin Romy Wijayanto dan Komutnya Achmad Syamsudin. Romy adalah mantan Direktur Keuangan & Strategi Bank DKI, sedang Achmad Syamsudin adalah mantan Dirut BPD  Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Bayangkan, jauh-jauh didatangkan.

Belakangan ada isu yang berkembang. Achmad Syamsudin ketika mendaftar kabarnya melebihi batas usia. Syarat resmi maksimal calon berusia 60 tahun, tapi ketika mendaftar dia dikabarkan sudah berusia 61 tahun. Selain itu ada hal yang berkembang di mana Achmad Syamsudin diduga terkait isu pemalsuan dokumen RUPSLB yang lagi ditangani APH.

Gubernur Rudy Mas’ud sepertinya lebih suka orang luar masuk ketimbang mendorong orang lokal atau orang daerah. Mungkin ada udang di balik batu. Dalam kasus Dewas RSUD dia mengangkat Dr Syahrir A Pasinringi  jadi Ketua Dewas RSUD AWS dan Dr Fridawaty Rivai jadi anggota Dewas RSUD Kanujoso. Keduanya dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas.  Padahal masih ada orang daerah yang bisa ditempatkan di sana.

Syahrir yang akrab dipanggil Prof Cali itu juga dapat perlakuan istimewa. Dia juga diberi kehormatan menjadi  Koordinator Bidang SDM dan Kesejahteraan Rakyat Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim. Jadi Cali dapat dua honor dari APBD Kaltim. Honor Ketua Dewas RSUD AWS dan honor TAGUPP. Khusus honor TAGUPP, dia mendapat Rp30 juta per bulan.

Jauh sebelum ini, ada juga tragedi kursi  Ketua DPRD Kaltim, yang saat itu diduduki Makmur HAPK. Dia mantan Bupati Berau kelahiran Batu-Batu. Juga salah seorang senior di Golkar Kaltim. Tapi dia ditelikung di tengah jalan oleh rekannya sendiri, yaitu Hasanuddin Mas’ud (HAMAS). Makmur terjungkal digantikan HAMAS yang dikenal dari klen Bani Mas’ud. Dia berkuasa di Karang Paci sampai saat ini.

Siapa lagi orang Kaltim yang bisa menjadi korban berikutnya? Tidak tertutup kemungkinan adalah Sekdaprov yang sekarang dijabat Sri Wahyuni. Sri ini terbilang wanita perkasa dan punya integritas yang tinggi. Perempuan kelahiran Samarinda 27 Desember 1970 ini, suatu saat bisa saja didepak karena ada kemauan lain dari atasannya. Sekdaprov sangat memungkinkan lagi didatangkan dari luar.

Kalau sudah begini apa orang Kaltim masih tak sadar? SDM asli Kaltim yang berkualitas tidak banyak. Sudah tidak banyak disingkirkan atau tersingkir lagi, apa tidak apes nasib kita?.

Terlepas isu lain, ada juga yang harus kita puji dari Presiden Jokowi. Selain menetapkan lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim, dia juga masih menghargaai SDM Kaltim. Perpres No 62 Tahun 2022 yang ditandatanganinya menyebutkan paling sedikit 2 (dua) Deputi Otorita IKN diutamakan dari unsur masyarakat lokal di Kaltim.

Ketika ada penerimaan CPNS untuk OIKN, Presiden Jokowi juga menyetujui kebijakan afirmasi yaitu pemberian jatah khusus untuk putra Kaltim sebanyak 5 persen. 

Menurut saya kebijakan seperti ini perlu dikembangkan di tempat lain. Misalnya di Pertamina atau di perusahaan besar lainnya yang beroperasi di daerah ini. Sebagian pekerjanya apalagi di level atas bukan orang daerah.

Betapa sedihnya kita semua. Kaltim memang selalu dikerjai dan dikuras habis-habisan. Jangan sampai kita dibilang Rocky Gerung: Bodoh dan Dungu.(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *