
KETIKA saya menulis soal calon wakil wali kota (wawali) Balikpapan 2029 dari tokoh muda, ada yang bertanya siapa calon walikotanya?
Sebenarnya sudah pernah saya ungkap. Ada dua nama yang saat ini terbilang cukup kuat yaitu Bagus Susetyo (58) dan Abdulloh (62). Bagus saat ini menjabat wawali sekaligus sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Balikpapan. Sedang Abdulloh menduduki posisi Ketua Komisi III DPRD Kaltim dari Fraksi Golkar.
Abdulloh masih punya jabatan lain di beberapa organisasi. Dia ketua paguyuban orang Jawa yaitu Ikapakarti Balikpapan dan Ketua Laskar Merah Putih (LMP) Kaltim. Sebelumnya pernah menjadi Ketua DPRD Balikpapan dan Sekretaris DPC Golkar.
Sedang Bagus pernah menjadi anggota DPRD Kaltim, pernah menjadi Bendahara DPD Gerindra Kaltim dan Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Kaltim.

Dilihat dari rekam jejaknya, keduanya sama-sama punya pengalaman yang kuat dalam berpolitik. Kedua-duanya punya kesempatan yang sama bersosialisasi di masyarakat. Abdulloh juga teruji meraih suara terbanyak ketika Pileg 2024. Saya lihat kedua tokoh ini sering hadir dari berbagai acara di masyarakat. Malah pernah hadir bersamaan.
Jika Bani Mas’ud tidak mengajukan calon, maka pertarungan Bagus dan Abdulloh berlangsung seru. Tapi saya tidak yakin tak ada calon dari klan Mas’ud yang didorong maju. Apa mereka ikhlas melepas kursi No 1 Balikpapan?
Kalau dilihat peta pada saat ini, maka ada 2 orang kuat dari anggota Bani Mas’ud yang sangat mungkin diajukan setelah ditariknya Hj Nurlena Mas’ud. Yaitu Hasanuddin Mas’ud, yang saat ini Ketua DPRD Kaltim. Satunya lagi, Hijrah Mas’ud, Wakil Ketua Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim.

Dari pimpinan partai masih ada dua nama. Yaitu Ketua DPD Partai Berkarya Kaltim H Karmin Laonggeng dan Ketua DPD Partai NasDem Balikpapan, Abdul Hakim Rauf. Karmin adalah bos perusahaan Arco Group yang namanya sering disebut-sebut pada Pilwali sebelumnya. Sedang Hakim yang sekarang Ketua DPD Partai NasDem, pernah jadi calon wawali mendampingi Andi Burhanuddin Solong (ABS) pada Pilwali 2016.
Tapi saya dengar Karmin lebih senang memilih kursi Balikpapan 2, sedang Hakim cenderung nyaleg ke DPRD Kaltim.
Ada netizen minta agar calon pemimpin Balikpapan jangan berlatar belakang pengusaha. Kapok, katanya. Mereka minta dosen atau ustaz. Kalau memang mau diajukan ada dua nama pada saat ini. Ketua Yayasan Uniba, Dr Rendy Ismail, yang pada Pilwali 2024 pernah maju bersama Edy Tarmo dari PDI Perjuangan serta Dr Agung Sakti Pribadi, Direktur Eksekutif merangkap Plt Rektor Universitas Mulia (UM) Balikpapan.

Agung juga punya pengalaman politik. Dia pernah menjabat Ketua DPC Partai Demokrat Balikpapan dan pernah juga mau diajukan menjadi bakal calon Wali Kota Balikpapan pada Pilwali 2011. Sebelumnya Agung pernah menjalani profesi sebagai wartawan Kaltim Post. Dan sekarang juga sebagai Sekretaris Dewan Kehormatan Peradi Balikpapan.
Apakah ada calon berlatarbelakang ustaz? Pada Pilwali 2019 memang pernah muncul nama Ustaz Solehuddin Siregar. Purnawirawan TNI berpangkat letnan kolonel. Dia mau menggunakan jalur independen, tapi gagal memenuhi syarat. Sempat juga jadi caleg DPR RI 2024 Partai Gerindra Dapil Kaltim.
Selain itu, ada Ustaz Naspi Arsyad dari Gunung Tembak, Balikpapan Timur. Dia sekarang Ketua Umum DPP Hidayatullah. Pada Pemilu 2024 sempat jadi calon anggota DPD RI dan calon Wakil Bupati PPU. Saya tidak tahu apa Ustaz Agus Khoirul Huda berminat masuk ke politik? Dia cukup populer. Ada juga Ustaz drg Syukri Wahid, Ketua DPC Partai Gelora, yang pada Pilwali 2024 menjadi calon wawali mendampingi Sya’bani.
TIGA TOKOH TERSEMBUNYI
Di luar nama-nama tadi, sebenarnya ada tiga tokoh pengusaha Balikpapan yang punya kapasitas untuk menjadi pemimpin kota. Mereka memang terkesan tidak terlalu bernafsu masuk ke wilayah politik. Ketiga nama itu adalah Roy Nirwan (63) , H Redy Asmara (67) dan Haji Asfia Achmad (66).
Roy Nirwan dan Haji Asfia punya hubungan dengan tokoh muda dalam tulisan saya sebelumnya. Roy adalah ayah dari Glenn Aringga Nirwan dan Asfia ayah dari Noval Asfihani dan mertua dari Malvin Ardento Chandra.

Sekarang ini, Roy adalah pengusaha daerah yang karyanya berskala nasional bahkan internasional. Dia owner PT Balikpapan Ready Mix (BRM), yang memproduksi beton cor dan cetakan bermutu tinggi. Produksinya ikut berkontirubis dalam pembangunan perluasan kilang Pertamina (RDMP) Balikpapan dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Di tengah kesibukannya berusaha, dia juga aktif di dunia olahraga. Ketika saya jadi wali kota, Roy sempat menjadi Ketua KONI Balikpapan. Pembinaan atlet berkembang tanpa ada intervensi politik. Roy juga terjun sebagai pereli dan atlet menembak. Dia sekarang Ketua Perbakin Kaltim. Pernah berburu sampai ke Afrika dan New Zealand.
Dia juga terlibat kerjasama dengan Haji Asfia, yang dikenal pemilik Karunia Group. Mereka mendirikan perusahaan tanaman industri untuk memenuhi kebutuhan kayu bukan dari menebang pohon dari hutan alam. Ini di luar bisnis yang ditekuni mereka selama ini.
Haji Asfia adalah pengusaha keturunan asal Tarakan yang sukses di Balikpapan sejak era Wali Kota Imdaad Hamid. Dia kontraktor utama di perusahaan tambang batu bara Gunung Bayan dan Kideco Jaya Agung. Ini dua perusahaan raksasa. Karena itu wajar kalau dia juga ikut berkembang pesat. Dia juga sempat menjadi kontraktor pembangunan gedung Polresta Balikpapan.
Ketika terjadi krisis listrik di Kaltim termasuk Balikpapan tahun 2008-2009 dia ikut terlibat mencari solusi. Bekerja sama dengan Pemkot membeli sejumlah genset. Pernah diajak Pak Dahlan Iskan melihat pembangkit listrik batu bara di China bersama Gubernur Suwarna AF. Saat itu ikut juga rekan-rekannya. Di antaranya pengusaha Jhony Santoso, alm Jhony Ng, Sabri Ramdani, H Syahril Taher dan Zaenal Muttaqin.
Haji Asfia juga dikenal sebagai pengusaha dermawan. Dia juga membangun panti asuhan dan pesantren. Juga menjadi Pembina Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Balikpapan.
Dari ketiga nama itu, hanya H Redy yang pernah bersentuhan dengan politik secara langsung. Dia pernah menjadi Ketua DPD NasDem Balikpapan. Dia juga dikenal sebagai tokoh masyarakat Banjar. Pernah menjadi Ketua Kerukunan Bubuhan Banjar Kalimantan Timur (KBBKT) Balikpapan dan Wakil Ketua KBBKT tingkat provinsi.
Perusahaannya juga berkembang pesat dengan nama PT Gunung Harang Sejahtera dan PT Kutai Permata Nusantara. Dia salah satu kontraktor utama perusahaan tambang batu bara asal Thailand, PT Singlurus Pratama.
Haji Redy juga mengembangkan lahan perkebunan seluas 100 hektare di kawasan Samboja-Handil, Kutai Kartanegara. Dia banyak menanam bibit buah-buahan. Juga dikenal sebagai kolektor otomotif. Di rumahnya yang luas di Balikpapan Baru dipajang ratusan mobil dan sepeda motor antik, yang nilainya miliaran rupiah.
Dia memang punya hobi di olahraga otomotif terutama motokros. Punya sirkuit di Karang Joang, Balikpapan Utara. Sering dilaksanaan kejuaraan di sana, baik tingkat daerah maupun nasional.
Apakah ketiga pengusaha itu mau “turun gunung” ke gelanggang politik? Itulah soalnya. Saya lihat mereka tak suka dengan suasana gonjang-ganjing dan sikut-sikutan. Padahal mereka dikenal sebagai pengusaha yang sukses dan punya semangat membangun dan memajukan kota.(*)


