
PRESIDEN Prabowo Subianto meninjau kebakaran hutan di Kalbar, lanjut ke Sumatera. Sedang Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang sempat “di-wanted” netizen, tiba-tiba muncul meninjau kebakaran di Kalsel. Kemudian dia terbang ke Kalbar. Lalu siapa yang menengok Kaltim?
Rasanya ngga ada, itulah nasib Benua Etam. Selalu dianaktirikan Pusat. Memang bikin kesal dan sakit hati. Di Kalsel ada pengusaha Haji Isam yang diperintah Prabowo turun tangan. Tapi di Kaltim kita tidak melihat aksi besar yang dilakukan “raja-raja batubara dan kelapa sawit.”
Padahal kebakaran hutan di Kaltim juga parah. Fenomena El Nino juga membuat Kaltim kering kerontang. Kebakaran hutan terjadi di mana-mana termasuk di kawasan delineasi Ibu Kota Nusangtara (IKN). “Jalan tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) di waktu malam seperti di neraka,” kata seorang sopir yang lewat di sana.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, hingga 22 Agustus lalu, total luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kaltim mencapai 1.260 hektare dari 430 kejadian. Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) paling parah, tapi titik api terbanyak berada di wilayah Kabupaten Paser.
Kemarau membuat pedalaman Mahakam tak mudah dijangkau. Malah sebagian sungainya di bagian hulu jadi daratan. Ribuan ekor ikan mati bergelimpangan. Satu-satunya yang senang dengan kondisi itu para penambang pasir dan batu (sirtu). Tak perlu menyelam. Hanya saja membawanya ke kota juga tidak gampang.

Sementara itu intrusi air asin juga sudah mulai masuk di muara. PDAM Samarinda dan Kukar yang menggunakan air baku dari Sungai Mahakam mulai was-was. Malah Kukar mempertimbangkan pengambilan air di kolam-kolam bekas tambang.
Ketinggian air di Waduk Manggar di Balikpapan saat ini 9,5 meter. Padahal kondisi normalnya sekitar 12 meter. Meski PDAM masih bisa mengambil air baku sebanyak 1.000 liter per detik, tapi Pemkot sudah wanti-wanti agar warga benar-benar berhemat. Pembelian tandon air jadi meningkat.
Otorita IKN lebih dulu mengambil inisiatif dengan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Bekerjasama dengan BMKG, TNI AU dari Lanud Dhomber Balikpapan dan BPBD mereka menebarkan natrium klorida (NaCl) atau garam dengan menggunakan pesawat Casa NC-212. Operasi berlangsung satu minggu, mulai 21 hingga 27 Agustus 2026.
Untuk mendatangkan hujan, di beberapa tempat warga juga melaksanakan salat istisqa. Di antaranya dilaksanakan di halaman Mapolres Paser pada Senin (24/8) lalu. Lebih 200 warga dipimpin Kapolres Paser AKBP Sofyan meminta diturunkan hujan. Bertindak sebagai imam Ustaz Muhammad As’ad.
Alhamdulillah, pada tanggal yang sama dan sehari kemudian terjadi hujan di berbagai wilayah Kaltim. Mulai Ujoh Bilang, Barong Tongkok, Kota Bangun, Samarinda, Bontang, Berau sampai Balikpapan. Ada yang lebat dan ada yang ringan dengan durasi tidak terlalu panjang. Tapi di Balikpapan sampai ada kawasan jalan yang terendam.

BMKG menegaskan bahwa cuaca di Kaltim dalam beberapa hari ke depan masih tetap didominasi panas meskipun ada peluang terjadi hujan ringan. “Kaltim masih kemarau dan bahkan saat ini menuju El Nino fase kuat dengan tingkat kekeringan tinggi,” kata Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas 1 Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin.
Menurut Huda, puncak El Nino lebih kering di Kaltim diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober tahun ini, sehingga kemungkinan titik panas di bulan-bulan tersebut bisa lebih tinggi. Itu berarti kemarau masih berlangsung sekitar 2 bulan lagi. Bakalan harga penjualan air tandon melonjak tinggi.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menginstruksikan seluruh bupati dan wali kota memperketat pengawasan dan kesiapsiagaan berkaitan dengan karhutla. Sementara Kapolda Irjen Pol Endar Priantono menegaskan tidak ada toleransi bagi pelaku pembakaran hutan. Saat ini pihaknya menyelidiki 8 laporan kasus karhutla dengan 3 tersangka yang dibekuk di Kukar dan Berau. Malah yang di Berau mengaku disuruh membakar untuk pembukaan kebun kelapa sawit.
COBAAN BERUNTUN
Jauh sebelum kemarau dan kebakaran hutan, Kaltim sudah ditimpa berbagai cobaan atau musibah yang membuat daerah ini terutama warga dan pemerintahnya tidur tidak nyenyak.
Ketika Presiden Prabowo meresmikan proyek perluasan kilang minyak Pertamina Balikpapan (RDMP) senilai Rp123 triliun pada 12 Januari 2026, warga Kaltim bermimpi akan mendapatkan kemakmuran dalam mengkonsumsi BBM. Apalagi kapasitas pengolahan kilang meningkat dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari.

Tapi ternyata situasinya tetap gombal. Sampai sekarang rakyat Kaltim masih antri BBM. Sakit hatinya sampai ke ulu hati. Sebab di daerah lain seperti di Jawa tidak separah ini. Jadi yang dialami Kaltim seperti kata pepatah: “Tikus Mati di Lumbung Padi.”
Di Samarinda, Wali Kota Andi Harun harus menghadapi aksi demo ratusan sopir truk yang menolak adanya pembatasan kupon subsidi untuk pembelian BBM. Rencananya Dishub memberlakukan sejak 1 September 2026.
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud terpaksa mengeluarkan surat edaran (SE) tentang penyaluran BBM Bersubsidi jenis biosolar dan Pertalite untuk menjaga stabilitas ketersediaan pasokan BBM serta antrian panjang di berbagai SPBU. SE ini juga berlaku sejak 1 September. Yang tidak enaknya dari SE ini, mobil yang mau isi Pertalite baru dilayani pukul 22.00 malam sampai 06.00 pagi. Ada yang marah, karena harus begadang.

Ada yang bilang ini ujian berat bagi Gubernur Rudy Mas’ud. Sebab, dia dan saudaranya dikenal sebagai pengusaha minyak besar di daerah ini. “Masa pemain minyak tidak bisa menyelesaikan masalah minyak,” kata Rustam, seorang sopir di Samarinda. Apalagi bos Rudy di Golkar adalah Bahlil Lahadalia. Bukankah dia adalah Menteri ESDM, yang tugasnya memang mengurusi kelancaran BBM.
Rudy juga diuji Presiden Prabowo dengan kebijakan pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD). Akibatnya, APBD Kaltim yang pernah mencapai Rp25 triliun, pada tahun 2027 tinggal sekitar Rp12,1 triliun. Penurunan sangat tajam ini juga dialami kabupaten/kota.
Itu terjadi karena dana TKD Kaltim bersama 10 kabupaten/kota dipangkas sekitar Rp20 triliun. Tahun 2025 angkanya Rp42,5 triliun, tapi 2026 tinggal Rp22,5 triliun.
Sekarang muncul berbagai ketidakpuasan di daerah. Bayangkan, daerah penghasil sumber daya alam, tapi hanya menikmati sedikit. Hasil batu bara Kaltim setahunnya mampu mendatangkan duit sekitar Rp800 triliun lebih. Tapi yang dinikmati Kaltim hanya sekitar Rp8,5 triliun. Sementara kerugian ekologisnya mencapai Rp671 triliun lebih.
Lucunya lagi sudah batu baranya dari tempat kita, tapi Kaltim sendiri termasuk daerah yang terkena pemadaman dan penggiliran listrik. Kurang apalagi penderitaan yang dialami.
Atas ketidakadilan ini, mulai muncul berbagai gagasan. Ada yang minta Kaltim Merdeka. Ide ini sudah pernah ada sejak era Gubernur Suwarna AF. Atau Otonomi Khusus (Otsus) seperti Aceh dan Papua. Sehingga Kaltim bisa dapat dana Otsus dan pembagian DBH yang lebih adil.

Ada aksi menarik yang dilakukan 4 gubernur se Kalimantan pada tahun 2012. Gara-gara listrik byarpet. Waktu itu Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Gubernur Kalsel Rudy Arifin, Gubernur Kaltim Agustin Teras Narang dan Gubernur Kalbar Cornelis. Mereka mengancam menyetop suplai batu bara ke Pulau Jawa jika listrik di Kalimantan terus menerus tidak lancar.
Beberapa hari lalu ada spanduk terbentang di atas flyover Air Hitam Samarinda. Spanduk itu bertuliskan: Kaltim kaya, tapi hasilnya ke Pulau Jawa. Merdeka tapi palsu.” Yang menarik di samping spanduk itu, selain terbentang bendera Merah Putih, ada juga bendera berwarna Merah, Kuning dan Biru. Katanya itu bendera Borneo Merdeka. Saya baru lihat dan kaget, ternyata sudah ada ide sejauh itu.(*)
