Menebar Padi ala Bupati Kutai

Bupati Kukar dr Aulia Rahman dan undangan lainnya menebar benih padi langsung di atas air Danau Semayang.

ADA inovasi menarik dari Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dr Aulia Rahman Basri, M.Kes. Dia menanam padi dengan cara menebar benihnya di atas air. Banyak yang heran. Peristiwa itu jadi viral di media sosial dengan berbagai tanggapan pro kontra.

Peristiwa itu dilakukan Bupati Aulia di perairan Danau Semayang, Kecamatan Kenohan pada 1 September 2026. Acaranya berlangsung resmi. Ada spanduk dibentangkan. Isinya bertuliskan: “Penebaran Benih Padi Mendukung Kearipan Lokal Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara di Danau Semayang Kecamatan Kenohan.”

Bupati dan istrinya, Andi Deezca Pravidhia Aulia diantar naik perahu ketinting. Lalu dia nyemplung ke danau. Airnya sebatas lutut. Selanjutnya dia dan undangan lainnya menebar benih padi di atas permukaan air. Jumlahnya cukup banyak. Satu ton atau seribu kilogram.

Dia menjelaskan, karena efek El Nino atau kemarau berkepanjangan maka Danau Semayang mengering. Karena itu dimanfaatkan untuk menanam padi. “Metodenya sedikit unik memang, kita menabur di atas air. Sudah ada buktinya sebelah sana,  tuh padi-padi yang ditabur tumbuh dengan baik.  Insyaallah 3,5 bulan kemudian kita akan balik ke sini untuk panen raya,” lanjutnya berseri-seri.

Spanduk penebaran benih padi yang dilakukan Bupati Kukar di Danau Semayang.

Danau Semayang berada di aliran Sungai Mahakam. Tepatnya di Daerah Mahakam Tengah (DMT). Letaknya bertetangga dengan Danau Melintang dan Danau Jempang. Kalau mau ke sana, kita menuju Kecamatan Kota Bangun dulu. Kota yang tidak pernah tidur. He.

Dari Tenggarong menuju Kota Bangun memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit melewati jalan lintas Kalimantan poros tengah. Lalu lanjut ke Tabang hingga tiba di kawasan sekitar Danau Semayang. Bisa juga dari Kota Bangun sewa perahu ketinting menuju lokasi yang dituju.

Wilayah Danau Semayang cukup luas. Sekitar 13 ribu hektare dengan kedalaman saat air pasang mencapai 3,5 meter. Ketiga danau itu lumbungnya ikan air tawar mulai ikan biawan, haruan, pepuyu, baung, lais dan lainnya. Tarmasuk juga udang. Udang air tawar terkenal lezatnya.

Karena banyaknya ikan di Danau Semayang, maka di sini hidup mamalia air tawar yang terancam punah. Namanya Pesut Mahakam atau Orcaella brevirostris. Sudah jarang kita melihatnya. Hanya sekali-kali dia muncul ke permukaan. Mungkin sekarang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Bupati Kukar dr Aulia Rahman Basri dan istri naik perahu ketinting menuju lokasi penebaran benih padi.

Di Samarinda, kita bisa lihat ada beberapa monumen atau tugu pesut Mahakam. Ada di dekat Jembatan Mahakam, Samarinda Seberang, ada di Karang Asam dan ada juga yang kontroversial di simpang Lembuswana. Selain bentuknya tidak terlalu mirip pesut Mahakam, juga biaya pembangunannya yang menguras APBD Samarinda di atas satu miliar rupiah. Makanya sempat heboh.

Ekosistem Danau Semayang merupakan jenis perairan paparan banjir (floodplain). Pada musim hujan, volume air melimpah hinga menyatu dengan danau tetangganya. Sebaliknya pada musim kemarau, danau bisa mengering dan jadi daratan yang luas.

Oleh warga setempat, daratan yang luas itu dibuat berbagai aktivitas. Ada yang main bola atau trek-trekan dengan sepeda motor. Tapi ada juga yang dimanfaatkan warga lokal untuk menanam padi seperti yang dilakukan Bupati Kukar.

Benih padi yang mengapung di atas permukaan air. Seratus hari kemudian bisa dipanen.

BENTUK KEARIFAN LOKAL

Benarkan menebar benih padi di atas air bisa tumbuh? Banyak netizen menganggap itu perbuatan sia-sia. Lebih banyak sensasi dari pada keberhasilannya. Tapi Bupati Aulia menyebut cara ini adalah kearifan lokal yang memang miracle.

Seorang netizen perempuan membuat komentar dalam bahasa Jawa. Sambil tertawa dia menyindir Bupati Kutai. “Ini skenario model apa lagi, kok bisa-bisanya Bupati Kukar tabur 1 ton benih padi di Danau Semayang. Terus katanya tiga bulan lagi panen. Lho apa benihnya ngga dipangan iwak,” tanyanya.

Dia juga menuding apa yang dilakukan Bupati tersebut sebagai perbuatan sia-sia. “Morat-marit, morat-marit, ya nggak mungkin bisa diam benihnya karena dibawa arus air, jadinya mubazir,” katanya.

Model budidaya pertanian padi apung yang sudah dikembangkan di Kalsel.(Ist)

Akun KALTIMFOLKS bekerjasama dengan Pemkab Kukar mengungkap penjelasan dari petani yang terlibat. Sang petani menjelaskan, pola tanam padi dengan penebaran itu sudah dilakukan sejak 1997 di era Bupati Kutai Sulaiman dan Syaukani. “Cuma baru sekarang viral,” ujarnya.

Dia menjelaskan pola tanam padi dengan penebaran, karena petani atau nelayan kepepet waktu. Hal ini dilakukan di saat musim kemarau. Biayanya juga lebih murah. “Habis ditebar pasti panen 100 hari. Hasilnya sama seperti tanam padi di darat,” katanya.

Saya belum bisa membayangkan bagaimana benih padi yang bertebaran di atas air tiba-tiba bisa tumbuh teratur. Menurut petani, ada caranya melempar benih padi ke air. Empat meter ke kiri, 4 meter ke kanan, 4 meter ke belakang dan 4 meter ke muka. “Sekuatnya kita melempar supaya benih itu jangan tertumpuk jatuhnya,” begitu pesannya.

Sistem pertanian tanaman padi di atas air dikenal dengan nama padi apung.  Telah sukses diuji coba dan dikembangkan di daerah Indonesia yang banyak rawanya seperti Kalsel. Kita bisa lihat di Desa Banyu Hirang, Amuntai Selatan atau di Desa Hamayung di Hulu Sungai Selatan. Ada juga di Jawa dan Sumatera. China lebih canggih lagi mengembangkan padi apung.

Danau Semayang yang kering bisa dimanfaatkan trek-trekan motor.

Tapi benih padi tidak langsung ditebar di atas air. Benih tetap ditanam di atas media pot atau gelas plastik berisi sekam dan pupuk kandang. Lalu diletakkan secara teratur di atas rakit bambu atau  polyfoam yang dilengkapi pelampung agar mengapung stabil.

Guru Besar utama di bidang agronomi dan pemuliaan tanaman padi Prof Rusdiansyah yang juga mantan Dekan Fakultas Pertanian Unmul menyambut positif apa yang dilakukan Bupati Aulia. “Bagus, sebab itu juga dilakukan bupati sebelumnya Edy Darmansyah 10 tahun lalu. Jadi bukan yang pertama. Saya ikut terlibat sebagai tim percepatan,” jelasnya.

Waktu itu areal yang ditanam di Danau Semayang mencapai 400-an hektar dengan melibatkan 30-an petani. Yang lainnya masih ragu-ragu. Ada 260 hektare yang sukses dengan produksi 6 ton per hektare gabah kering giling. Berasnya benar-benar beras organik. Malah juga panen ikan pepuyu dan sepat. “Akhirnya petani dan nelayan di sana ramai-ramai terlibat sampai kita kehabisan benih,” kata Prof Rusdiansyah.

Pakar pertanian padi Unmul, Prof Rusdiansyah.

Saya bukan ahli pertanian. Tapi waktu kecil tinggal di Samboja, saya sering diajak ayah bertani ladang. Jadi rindu juga jadi petani. Kalau nanti  panen bulan November, jangan lupa saya diundang Pak Bupati. Kebetulan di belakang rumah saya ada waduk bendali. Apa bisa dikembangkan padi tebar atau padi apung di sana?(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *