
MAKIN seru netizen membahas calon Wali Kota Balikpapan 2029. Soalnya wali kota sekarang, Rahmad Mas’ud (RM) sudah pasti tak bisa mencalonkan lagi. Dia sudah dua periode, jadi terbuka peluang selebar-lebarnya kepada calon baru.
Siapa calonnya? Nah itu dia yang ramai dibahas. Kalau dilihat dari postingan di media sosial dan pembicaraan di tempat umum, ada dua calon kuat yaitu Hj Nurlena, istri RM dan Abdulloh, mantan Ketua DPRD Balikpapan yang sekarang duduk sebagai Ketua Komisi III DPRD Kaltim.
Dua-duanya dari Partai Beringin. Kuning. Tapi kalau dilihat dari postingan yang ada, keduanya tidak mungkin disatukan. Banyak postingan yang menggambarkan tertutup pintu Golkar buat Abdulloh. Jadi kalau dia ngotot mau maju, maka dia harus mencari perahu lain.
Seperti pernah saya tulis, Bani Mas’ud tampaknya punya skenario dalam Pemilu 2029. Mereka ingin meraup semua kursi kekuasaan strategis di daerah ini. Gubernur Kaltim 2029-3004 tetap ditangan Rudy Mas’ud (HARUM). Lalu kursi Ketua DPRD Kaltim diserahkan kepada RM, sedang Hasanuddin Mas’ud (HAMAS) didorong menjadi calon Wali Kota Samarinda.
Selanjutnya pada Pemilu 3004, RM didorong jadi Gubernur Kaltim menggantikan HARUM. Jadi kalau RM berhasil, maka kursi gubernur tidak pernah lepas dari genggaman tangan Bani Mas’ud.
Ada kemungkinan juga Hj Syahariah Mas’ud yang sekarang menjadi anggota DPRD Kaltim ditugaskan merebut kembali kursi Bupati Penajam Paser Utara (PPU) setelah adik bungsu mereka, Abdul Gafur Mas’ud (AGM) tersandung OTT KPK. Syahariah memang berasal dari dapil PPU. Apalagi Bupati PPU sekarang, Mudiyat Noor sudah berkali-kali dipanggil sebagai saksi di KPK.
Lalu siapa calon Wali Kota Balikpapan dari Bani Mas’ud? RM pernah menyatakan tidak akan mengizinkan istrinya maju. Tapi yang namanya ucapan politik terjemahannya banyak. Dibilang tidak padahal iya. Jadi sangat mungkin berubah-ubah melihat perkembangan arah angin atau wangsit yang datang.
Tapi andai kata Nurlena benar tidak maju, apa masih ada dinasti Bani Mas’ud yang bisa didorong? Tempo hari saya sebut ada keponakan mereka, Alwi Al Qadri yang sekarang duduk sebagai Ketua DPRD Balikpapan. Ada Eddy Salasa, suami Yuli Mas’ud yang pernah didorong jadi calon Bupati Sinjai serta ada juga pasangan suami istri dr Ifransyah Fuadi (Direktur RSUD Beriman) dan Hijrah Mas’ud.

Ada yang berpendapat dari keempat nama itu, yang sangat mungkin adalah Hijrah Mas’ud. Soalnya Hijrah saat ini sangat berperanan betul di Kantor Gubernur. Dia juga diangkat menjadi Wakil Ketua Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP). Jadi kemampuan politik dan komunikasinya tak diragukan.
Bayangkan betapa dahsyatnya politik dinasti yang dikembangkan Bani Mas’ud kalau mereka sukses. Gubernur dipegang Rudy Mas’ud, Ketua DPRD Kaltim Rahmad Mas’ud, Wali Kota Samarinda Hasanuddin Mas’ud, Wali Kota Balikpapan Hj Nurlena Rahmad Mas’ud atau Hijrah Mas’ud serta Bupati PPU Hj Syahariah Mas’ud.
CALON LAIN
Di luar Abdulloh dan Hj Nurlena, apa masih ada nama lain? Jangan dianggap sepele keberadaan Wakil Wali Kota Bagus Susetyo. Soalnya dia adalah Ketua DPC Gerindra, partainya Presiden Prabowo Subianto. Dia pasti tak mau jadi pecundang. Ada postingan di Instagram, ilustrasi digital Bagus bersama Abdulloh. Saya tidak tahu apa maksudnya.
Calon lain dari Ketua DPC, bisa jadi Eddy Sunardi Darmawan yang akrab dipanggil Eddy Tarmo. Mantan anggota DPRD Kaltim ini sekarang dipercaya menjadi Ketua DPC PDIP Balikpapan. Dia punya pengalaman sebagai calon wakil wali kota pada Pilwali 2024 mendampingi Rendy Ismail. Tapi saya dengar H Baba, anggota DPRD Kaltim dari PDIP juga didorong-dorong partainya. Dia adik H Sappe, tokoh Golkar Balikpapan yang sudah meninggal dunia.

Tempo hari Ketua DPD Partai Berkarya Kaltim H Karmin Laonggeng sempat disebut-sebut punya peluang maju. Dia pengusaha sukses dengan bendera ARCO Group. Juga dikenal sebagai Ketua Dewan Kesenian dan Ketua Alumni SMP 2 Balikpapan.
Apa masih ada calon lain? Rasanya untuk sementara tidak ada nama lain lagi. Tapi saya sempat kaget ada nama Dr Agung Sakti Pribadi muncul di postingan Instagram. Malah digandengkan dengan ilustrasi foto saya, yang ditulis sebagai mentornya. Saya memang sering bersama Agung bicara tentang Pilwali, tapi yang dibahas nama lain tanpa menyebut nama Agung sendiri. Tapi Agung, yang sekarang Direktur Eksekutif merangkap Plt Rektor Universitas Mulia, pernah menjadi Ketua DPC Demokrat Balikpapan dan memang sempat namanya didorong ikut Pilwali.
Di luar calon wali kota, beredar juga beberapa nama sebagai calon wakil wali kota. Dari unsur birokrat, beredar kuat nama Muhaimin, mantan Sekda Balikpapan yang sekarang memegang jabatan Ketua Bappeda Kaltim. Muhaimin pernah menjadi Ketua KNPI, Karang Taruna dan aktif di Pramuka. Sejak Pilwali 2024 namanya sudah disebut-sebut.
PDIP juga punya stok nama yaitu Budiono, mantan Ketua DPC yang pernah duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Balikpapan. Dia sempat diajukan PDIP mendampingi RM untuk menggantikan Tohari Aziz, yang meninggal dunia terkena Covid-19. Tohari adalah calon wakil wali kota terpilih, yang tidak sempat dilantik.
Partai NasDem kabarnya menggadang dua nama yaitu Ketua DPC Abdul Hakim Rauf dan Yono Suherman, yang sekarang duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Balikpapan. Hakim pernah menjadi calon wakil wali kota mendampingi Andi Burhanuddin Solong (ABS) di Pilwali 2016.
Ada juga nama Iwan Wahyudi, Ketua DPC PPP. Dia adalah putra tokoh PPP Kaltim, Hj Kasriyah, yang pernah duduk sebagai anggota DPR RI. Serta drg Syukri Wahid, Ketua DPC Partai Gelora. Pada Pilwali 2024, Syukri calon wakil wali kota mendampingi HM Sa’bani
Tempo hari dalam tulisan saya sebelumnya, ada 3 nama anak muda yang bisa menjadi calon wakil wali kota alternatif. Mereka potensi, cerdas, dan punya kapasitas. Yaitu Ketua Kadin Noval Asfihani, Ketua HIPMI Adam Dustin Bhakti dan mantan Ketua HIPMI, Glenn Nirwan, putra pengusaha Roy Nirwan.
Saya pernah bertemu seorang ibu di pasar. Dia menyapa saya penuh semangat. “Pak Rizal ya?,” katanya setengah bertanya. Begitu saya jawab ya, dia langsung menembak saya. “Maju lagi yang jadi wali kota Pak,” katanya penuh semangat. Belum sempat saya jawab, dia cepat-cepat kabur. Padahal saya ingin jelaskan, mana mungkin lagi saya jadi calon. Buku saya yang pernah beredar judulnya: Saya Bukan Wali Kota Lagi.(*)



