WLB, Rita dan Pandji

Sempat berfoto bersama Bunda Rita Widyasari di acara WLB 4.

KOMPLEKS GOR Kadrie Oening di Sempaja Samarinda, Sabtu (13/6) malam penuh sesak. Ada dua acara menarik di sana. Ada pertunjukan stand-up Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo di Plenary Hall. Satu lagi ada acara Wartawan Legend Bedapatan (WLB) 4 di Claro Hotel. Ini bekas hotel atlet yang sekarang difungsikan lagi dengan manajemen baru.

Sebagai wartawan saya perlu hadir di dua acara tersebut. Itu sebabnya saya harus membagi waktu. Hadir dulu di WLB, lalu bergeser ke Pandji. Saya tak sempat bilang ke teman-teman wartawan, karena langsung menghilang ketika Pandji sudah di atas panggung sekitar pukul 21.30 Wita. Saya jalan kaki dari Claro Hotel ke Plenary. Lumayan sekitar 500 meter.

WLB 4 sangat berarti terutama dengan kehadiran mantan Bupati Kukar, Rita Widyasari yang baru saja menghidup udara bebas setelah cukup lama menjalani hukuman. Saya sempat menyapanya. “Lawas leh kita ndi bedapat yo,” sungutnya dengan Bahasa Kutai yang kental.

Ketua panitia pelaksana WLB, Charles Siahaan sengaja mengundang Rita. “Pasti teman-teman wartawan senang karena mendapat objek pemberitaan yang menarik,” katanya.

Waktu saya masih Wali Kota Balikpapan, Rita juga masih menjadi Bupati Kukar. Kami sering bertemu. Baik di acara provinsi maupun di acara pusat. Dalam acara Rapat Nasional Kepala Daerah se Indonesia, saya sering lihat Rita menjadi salah satu kepala daerah yang banyak menarik perhatian.

Penampilan Pandji Pragiwaksono di Plenary Hall, Sempaja Samarinda, Sabtu (13/6) malam.

Dalam aksi panggungnya di Plenary Hall, Pandji sempat menyinggung soal kepulangan Rita ke Tenggarong yang disambut luar biasa oleh warga Kutai pada hari Jumat (12/6) lalu. “Saya pikir saya datang disambut seperti Bu Rita, ada arak-arakan keliling,” katanya membuat gerr penonton.

Selain Rita, hadir juga Wali Kota Samarinda Andi Harun dan wakilnya Saefuddin Zuhri. Sayang Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji urung datang. Padahal saya lihat ada spanduk terbentang. Gubernur yang sepenuhnya menjadi sponsor utama acara tersebut. Sambutan Gubernur dibacakan oleh Kadis Kominfo yang memang akrab dengan wartawan yaitu H Muhammad Faisal, S.Sos, M.Si.

Spanduk terima kasih dari sponsor utama Gubernur Rudy Mas’ud.

Saya juga sempat bertemu Dr Myrna Asnawati Safitri, SH, M.Si, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Dia adalah putri dari wartawan dan politikus terkenal Samarinda, HM Fuad Arieph. Pak Fuad dan Pak Saleh Djaya mendirikan koran harian Suara Kaltim. Pak Fuad juga pernah menjadi anggota DPRD dan Ketua Golkar Samarinda.

Acara WLB 4 cukup semarak. Ada monolog menarik tentang wartawan legend alm Hiefnie Effendy, pemilik koran Mingguan Meranti Samarinda yang pernah menjadi Ketua PWI Kaltim selama 15 tahun. Dia dikenal sebagai wartawan yang berani dalam menyampaikan kritik. Karena itu dia pernah masuk penjara dan dipukul kepalanya dengan kayu ulin.

Sejumlah wartawan legend hadir. Ada Pak Ibrahim Konong atau Iko yang hampir bersuai 86 tahun. Ada Syafruddin Pernyata, Abdul Rahim Hasibuan, Eddy Aliuddin, Syafril Teha Noer, “Jenderal” Shs, Haris Syamtah, Intoniswan, Sa’adillah Hasbullah, Silaban, Rusdiansyah Aras, Hamdani, Maturidi dan lainnya.

Sayang Pak Alwy AS tak bisa datang karena kondisinya. Usia Pak Alwy juga kepala 8. Dulu dia pemilik koran mingguan Mimbar Masyarakat. Di koran itu ada Suhaimi Zakaria, Pak Dahlan Iskan, Ibrahimsyah Rahman, Aan Reamur Gustam dan lainnya. Istri beliau Prof Suwinnah Alwy adalah dosen saya. Malah saya pernah dipercaya beliau jadi asistennya.

Kadis Kominfo Kaltim HM Faisal menyerahkan plakat kepada Syafruddin Pernyata. Di sampingnya ada Ketua Panitia Charles Siahaan. Tampak juga Intoniswan dan Simurung Silaban.

WLB 4 juga diwarnai acara Konvensi Media Siber. Ada 4 pembicara penting. Yaitu Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Dewan Pers Abdul Manan, Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Kemenkumham RI Dr Agung Darmasasongko, CEO KGI Network sekaligus Wakil Ketua Umum AMSI Upi Asmaradhana dan Kadis Kominfo Kaltim HM Faisal.

Malamnya ada juga bincang bersama Wali Kota Andi Harun dan Dr Myrna Safitri. Yang memandu Bung Syafruddin Pernyata. Myrna mengungkapkan anting-antingnya pernah dipinjam untuk dijual sang ayah. Ternyata anting-anting itu dijual Pak Fuad untuk membiayai penerbitan Suara Kaltim yang lagi oleng.

Syafruddin bergaya menunjuk bersama Wali Kota Andi Harun dan Deputi OIKN Dr Myrna Safitri.

SUDARNO JADI BINTANG

Ketika saya masuk ke Plenary Hall, Pandji sudah di atas panggung. Dia baru saja bilang cukup melelahkan diperiksa di Polda Metro Jaya gara-gara pertunjukan “Mens Rea”. “Sayang saya tak punya kursi pijat seperti dimiliki Gubernur Rudy Mas’ud,” katanya menyindir dan membuat penonton tertawa.

Kursi pijat di rumah dinas Gubernur Rudy Mas’ud sempat disorot warga. Karena dibeli dengan dana APBD sekitar Rp125 juta. Belakangan diklarifikasi. Katanya hanya Rp47 juta. Karena terus disorot, Gubernur sempat ingin mengganti dengan uang pribadi.  

Show Pandji di Samarinda berjudul “Kaltim Paradoks.” “Selain soal politik Indonesia, gua akan ngomongin Yang Mulia Gubernur Rudy Mas’ud,”katanya di video sebelum pertunjukan.

Wali Kota Samarinda Andi Harun berfoto bersama wartawan legend Ibrahim Konong (kedua dari kiri), Maturidi, Syafril Teha Noer, Sa’adillah dan Hamdani.

Sayangnya dalam penampilannya dia tak begitu banyak bicara soal Rudy Mas’ud. Kabarnya dia harus menyampaikan materi yang akan dibawanya ke pihak berwajib. Jadi  agak hati-hati untuk menjaga kondusivitas Kaltim.

Rudy Mas’ud sendiri tak kelihatan datang menonton. Yang ada di tengah-tengah penonton adalah Sudarno, anggota Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP). Nama Sudarno disebut-sebut di atas panggung. Dia tokoh dipuji sekaligus dimaki-maki netizen, karena dianggap bermain di dua kaki. Dulu sempat habis-habisan mengkritik Gubernur Rudy Mas’ud, tapi belakangan sekarang berani pasang badan demi sang gubernur. “Kalau saya ketemu Darno, saya mau sumpal mulutnya dengan sendal saya,” kata seorang warga mengumpat.

Wawan Irawan dari Aliansi Rakyat Kaltim meminta pandangan Pandji karena gagal meminta Hak Angket ke DPRD Kaltim.

Wawan Irawan dari Aliansi Rakyat Kaltim (ARK) sempat bertemu Pandji. Dia minta pandangan Pandji karena sudah berjuang mati-matian lewat aksi demo meminta Hak Angket tapi belum dikabulkan DPRD Kaltim. “Berhenti  mengasihani diri, ada salah lu juga dulu memilih dia karena ada amplopnya Rp250 ribu. Ke depan jangan pilih lagi yang ada nama belakangnya ‘Mas’ud.’ Galang kekuatan, terus buat konten yang mendidik,” begitu pesan Pandji.

Ikut mewarnai penampilan Pandji, tampil dua komika dari Kaltim. Yaitu Gamayel dari Polresta Balikpapan dan Damlie dari Paser Penajam Utara (PPU). Ada ucapan Pandji yang menohok Gubernur Rudy Mas’ud di awal penampilan. “Katanya mau jaga marwah Kaltim, tapi kok malah bikin marah,” katanya langsung disambar aplaus panjang dari penonton.(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *