
TOKOH WARTAWAN yang kita abadikan pada Wartawan Legend Bedapatan (WLB) 4 adalah Pak Hiefnie Effendy. Pemilik dan pemimpin redaksi surat kabar mingguan (SKM) Meranti Samarinda. Nama Meranti sepertinya diambil Pak Hiefni dari nama pohon di hutan Kaltim. Saat itu di tahun 70-an Kaltim terkenal memasuki era banjir kap alias penebangan pohon besar-besaran.
Meranti adalah jenis pohon dari hutan tropika basah yang bernilai ekonomi tinggi. Nama latinnya Shorea dipterocarpacea. Para penebang pohon tahu betul ada beberapa jenis pohon Meranti. Ada Meranti Merah, Meranti Putih, Meranti Kuning bahkan ada Meranti Berat yang juga disebut Balau.
Pak Hiefnie sangat terkenal dan ditakuti di zaman itu. Apalagi waktu itu beliau adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim selama 15 tahun. Dia dikenal di Samarinda, di pedalaman Mahakam bahkan sampai ke wilayat utara. Orang yang sering mendampinginya kalau ke Tarakan atau Nunukan adalah Haji Achmad Jack. Dia keturunan Tionghoa tapi juga galak dan berstatus wartawan Meranti perwakilan Tarakan.
Naman Pak Hiefnie ujungnya sama dengan saya. Sama-sama ada Effendi-nya. Tapi kami tak ada hubungan keluarga. Saya sendiri tidak tahu mengapa orangtua memberi tambahan nama Effendi. Itu cenderung nama orang Sumatera. Masih ada satu lagi nama wartawan yang menggunakan Effendi yaitu Robert Effendi, wartawan olahraga Kaltim Post. Dia juga bukan keluarga dan sudah tiada.
Pak Hiefnie wartawan kelahiran Loa Raya, Tenggarong Seberang, 11 Oktober 1930. Sosoknya agak besar, tinggi dan berkulit putih. Ada kumisnya. Jadi kelihatan gagah dan garang. Apalagi dia suka menggunakan motor trail.
Dia sempat kuliah di Jurusan Publistik Universitas Padjadjaran Bandung. Tapi tidak tamat. Sempat menjadi PNS di Departemen Penerangan Kaltim juga dia tinggalkan. Darah wartawannya sangat kuat. Dia memutuskan total menjalani profesi kuli tinta.
Dia dibimbing oleh Pak Saleh Djaya, ayahnya wartawan Tatang Dino Hero. Pak Saleh sempat juga menjadi Ketua PWI Kaltim setelah Pak Hiefnie. Bersama Pak Fuad Arieph, Pak Saleh mendirikan koran Suara Kaltim. Saya sempat menjadi wartawan di sini. Pak Hiefni sempat menulis untuk koran lokal Masjarakat Baroe yang dipimpin Pak Oemar Dachlan. Juga koran nasional Harian Merdeka di bawah pimpinan BM Diah.
Pak Hiefnie juga sempat bergabung dengan Pers Biro Indonesia (PIA). Ketika PIA melebur ke LKBN Antara, dia menjadi Kepala LKBN Antara Kaltim yang pertama. Bahkan dia juga pernah menjadi wartawan untuk Radio Australia. Sampai akhirnya dia mendirikan koran mingguan Meranti. Yang menarik sebelum bernama Meranti, koran itu diberi nama Kompas.
Saat itu saya masih menjadi wartawan pemula. Masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman. Pak Hiefnie adalah salah satu tokoh wartawan daerah yang saya kagumi. Tapi terkadang juga tidak saya senangi.

Salah satu kehebatan Pak Hiefnie adalah keberaniannya menyampaikan kritik terutama kepada para pejabat dan kepala daerah. Dia tak pernah gentar. Saat itu, meski koran mingguan, Meranti memang sangat disegani.
Atas keberanian itu, Pak Hiefnie harus membayar mahal. Dia pernah masuk penjara dan meringkuk di LP Tenggarong gara-gara pemberitaan. Dan bahkan pernah dipukul kepalanya sampai bocor dengan kayu ulin. Konon pelakunya oknum aparat yang menjadi backing perusahaan kayu nakal.
Pak Hiefnie konsisten dan bertahan dengan korannya yang dicetak ukuran tabloid. Ketika Pak Dahlan Iskan ingin membuka surat kabar harian di Kaltim dengan memasang mesin offset, dia tidak terlalu antusias. Dia tetap pede dengan koran mingguan Meranti yang dicetak secara handset. Yaitu mesin cetak manual tradisional (hand press) yang menyusun huruf menggunakan tangan .
Dalam sejarah percetakan klasik, handset adalah proses menyusun huruf lepas (movable type) satu demi satu dengan menggunakan tangan ke dalam sebuah wadah cetak (composing stick) sebelum dipasang ke mesin.
Pak Hiefnie suka mengajak wartawan anggota PWI melakukan liputan ke pedalaman dan perbatasan. Saya beberapa kali diajaknya. Salah satunya ke Talisayan, Berau. Saya punya nostalgia dengan Pak Syafruddin Pernyata. Kami naik kereta sapi, Pak Syafruddin terjatuh. Saya tertawa.
Kita juga pernah naik kapal menyusuri pedalaman Mahakam. Ke Kota Bangun, Muara Muntai, Melak sampai Long Bagun. Yang menarik ketika singgah di Long Lunuk. Di situ ada kampung berseberangan sungai. Warga yang menganut agama Kristen hidup rukun dengan warga muslim, meski kampungnya terpisah oleh sungai.
Dalam hal wartawan ada masalah dengan pihak lain, Pak Hiefnie sangat peduli. Pembelaannya kepada wartawan sangat luar biasa. Dia sangat tidak mau profesi wartawan terancam atau dizalimi. Kalau ada wartawan diancam, malah dia balik mengancam. Hebatnya orang takut dengan dia.

WARTAWAN HANKAM
Belakangan Pak Hiefnie bekerjasama dengan Kodam membentuk wartawan seksi Hankam. Program ini sangat dia banggakan. Kebetulan Kepala Penerangan Kodam IX/Mulawarman saat itu ,Mayor Inf Syahranuddin orang daerah. Dia adalah kakak kandung Syafranuddin, eks wartawan Kaltim Post yang pernah menjadi Kepala Humas dan Perpustakaan Pemprov Kaltim.
Sejumlah wartawan direkrutnya. Lalu mengikuti latihan. Saya lupa apakah rekan saya Syafruddin Pernyata ikut. Tapi saya tidak. Program ini salah satu yang saya tidak sukai. Soalnya saya orang kampus. Salah satu yang disorot mahasiswa adalah dwi fungsi ABRI, yang sangat menonjol di era Presiden Soeharto.
Sejak dibentuknya wartawan Hankam, Pak Hiefnie ke mana-mana sering menggunakan baju hijau. Dia sangat membanggakan. Rasanya itu yang pertama di Indonesia. Wartawan rasa tentara. Dia sampai mendapat penghargaan dari Pangdam dan Kepala Staf Angkatan Darat, Letjen TNI Rudini, September 1983.
Saya juga tidak terlalu happy mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwarnas) karena Pak Hiefnie membawa beberapa atlet prestasi daerah terutama di cabang tenis. Memang PWI Kaltim selalu juara, tapi beberapa daerah mengajukan protes karena dianggap petenisnya tidak terlalu murni wartawan.
Terlepas itu semua, saya tetap hormat dengan Pak Hiefnie. Dia pernah mengatakan, jurnalisme bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan sebuah “Jalan Pedang.” “Martabat jurnalis tidak pernah diukur dari seberapa dekat dia dengan kekuasaan, melainkan dari seberapa teguh ia berdiri melindungi kebenaran,” begitu tajam ucapannya.

Saya berterima kasih kepada ketua panitia Charles Siahaan alias Bang Ucok yang mengangkat nama Pak Hiefnie pada WLB 4 yang berlangsung di Hotel Claro Pandurata, Kompleks GOR Kadrie Oening, Sabtu (13/6) malam ini.
Orang-orang di lingkaran Pak Hiefnie juga sudah tiada. Ada Sardi Ary, Bambang Sumantri, Muchtar Lutfi, Nasrullah, Muhran Muis, Aji Burhanuddin dan lainnya. Yang masih ada Eddy Aliudin, menantu beliau yang juga wartawan Meranti. Eddy jago teknis dan atlet serba bisa. Saya bersahabat dengannya.
Selamat bedapatan malam ini. Semoga kita semua panjang umur. Bisa bertemu di WLB 5, tahun 2027.(*)


