Tahu Sumedang, Lab UM dan IKN

Dari kiri: Jatmiko, Agung dan Sumardi lagi sarapan pagi di Warung Tahu Sumedang Renyah di Km 36 jalan poros Balikpapan-Samarinda.

MINGGU (21/6) pagi saya diajak Pjs Rektor Universitas Mulia (UM) Balikpapan, Dr Agung Sakti Pribadi ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebelum masuk ke jalur jalan menuju IKN di km 38, kita singgah dulu ke lokasi Warung Sumedang yang baru di Km 36. ”Kita sarapan dulu di sini,” kata Pak Agung.

Saya kaget ada Warung Tahu Sumedang yang baru di Km 36. Padahal sebelumnya sudah dibuka Warung Tahu Sumedang di dekat pintu exit Tol Samboja, 200 meter arah jalan ke IKN.

“Ya yang ini pusatnya Warung Tahu Sumedang Renyah,” kata seorang petugas menghampiri kami sambil menyodorkan daftar menu.

Warung Tahu Sumedang baru di Km 36 Jl Soekarno-Hatta memang cukup besar. Pemandangannya menarik. Bisa melihat hamparan kebun sawit yang luas.  Parkirnya juga sangat lebar. Musholanya bersih dan bagus. Saya lihat di depannya ada sejumlah karangan bunga ucapan selamat. Yang menarik ada kiriman dari Kantor Cabang Utama (KCU) BCA  Dago Bandung dan Kantor Cabang (KC) BNI Sumedang.

Warung Tahu Sumedang Renyah di jalur jalan poros Balikpapan-Samarinda ini sangat legendaris terutama di lokasi lama di Km 50. Soalnya dibuka sejak tahun 80-an. Tapi pada 30 Maret 2026 lalu warung ini resmi ditutup permanen.

Aksi protes penutupan Warung Tahu Sumedang yang lama di Km 50 pada akhir Maret 2026.

Para penikmat tahu Sumedang kaget. Berita ini sempat viral di media sosial. Lalu dikaitkan penutupan ini sebagai tindakan dari Otorita IKN. Apalagi sempat tertulis di pagar seng penutup ucapan bernada protes. Bunyi tulisan itu: “Kami Atas Nama Karyawan, Jukir Tidak Terima Penutupan oleh Otorita IKN.”

Apakah Otorita IKN yang memerintahkan penutupan? Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Pantouw sempat menjelaskan duduk ceritanya. Dia mengungkapkan, lokasi Warung Tahu Sumedang itu memang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto yang seyogianya harus dijaga dan dilindungi serta tidak boleh ada kegiatan masyarakat.

Sehubungan itu, pihaknya bertemu dengan pihak terkait terutama pemilik warung. “Akhirnya dengan itikad baik dari sang pemilik dalam mendukung upaya pemulihan fungsi kawasan hutan konservasi Bukit Soeharto, maka Warung Sumedang ditutup dan akan dipindahkan ke lokasi di luar Bukit Soeharto,” kata Troy.

Dia juga menegaskan bahwa perlindungan kawasan hutan Bukit Soeharto bukan semata-mata penegakan regulasi, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk memastikan pembangunan IKN berjalan selaras dengan kelestarian alam.

Dari catatan lama, Warung Tahu Sumedang di Km 50 sebenarnya sudah pernah ditutup pada tahun 2018 juga karena alasan berada di lokasi Tahura Bukit Soeharto. Namun atas pertimbangan dan respon masyarakat, akhirnya diizinkan kembali beroperasi saat itu.

Karangan bunga dari KCU BCA Dago Bandung dan BNI Sumedang untuk pembukaan Warung Tahu Sumedang Km 36.

UM BUKA LAB TEKNIK

Habis melahap tahu Sumedang, sop buntut, nasi goreng dan tempe mendoang, kita meneruskan perjalanan ke IKN. Tujuannya ada dua. Mau melihat perkembangan terakhir pembangunan IKN. Kedua, meninjau persiapan Universitas Mulia (UM) membuka pelayanan laboratorium struktur dan teknologi bahan.

Pak Agung mengajak beberapa stafnya. Di antaranya Pak Sudarno dan Pak Sumardi, S.Kom, M.Kom, yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni UM. Selain itu ikut juga Pak Jatmiko,  arsitek senior rancang bangun Balikpapan.

“Melihat masifnya pembangunan IKN dan wilayah sekitarnya, UM merasa perlu membuka layanan laboratorium untuk uji bangunan. Kita melayani semua pihak yang membangun di wilayah ini,” kata Pak Agung.

Kawasan glamping IKN yang banyak menarik perhatian wisatawan. Dulu dimanfaatkan Presiden Jokowi untuk bermalam.

Lokasi lab yang disiapkan UM kebetulan tak jauh dari lokasi IKN. Beberapa peralatan lab sudah masuk. Di antaranya sudah siap melayani pengujian beton, pengujian non destruktif dan analisis agregat. “Nanti kita juga siapkan untuk pengujian tanah atau soil test,” tambahnya.

Jatmiko memuji terobosan yang dilakukan UM di IKN bersama mitranya. “Saya kira ini sangat dibutuhkan di lingkungan IKN. Kalau tidak salah selama ini uji teknik bangunan banyak dilayani Sucofindo. Dengan adanya lab UM, maka masyarakat punya pilihan dan bisa mempercepat waktu pengujian,” jelasnya.

Belakangan ini saya beberapa kali ke IKN. Terakhir mendampingi kunjungan Pak Dahlan Iskan. Tapi kemarin saya baru pertama kali meninjau jembatan kaca IKN yang berada di kawasan glamping. Dulu kawasan glamping itu digunakan Presiden Jokowi jika bermalam. “Kalau Bapak Presiden Prabowo belum pernah tidur di sini,” kata seorang petugas di sana.

Mencoba jembatan kaca di kawasan glamping IKN. Kita bisa menyaksikan semua bangunan IKN termasuk Istana Garuda dari atas bukit.

Kawasan glamping dan jembatan kaca itu berada di bukit belakang Istana Garuda. Memang sangat menarik ketika berada di sana. Kita bisa melihat langsung perkembangan pembangunan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dari atas bukit. Sekalian uji nyali berjalan di atas jembatan kaca yang unik.

Fasilitas ini tidak setiap hari dibuka untuk umum. “Hanya di hari-hari tertentu saja, terutama di hari libur di mana kunjungan masyarakat ke IKN meningkat,” kata petugas tadi.

Kami beruntung bisa diberi kesempatan ke sana. “Alhamdulillah atas seizin dan rekomendasi Pak Alimuddin, Deputi Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN,” kata Sumardi.

Kunjungan kami di IKN ditutup dengan makan siang di Restoran Kampung Kecil, sebelah Hotel Qubika. Saya dan Pak Jatmiko sama-sama pesan gareng asem ikan patin dan Pak Agung order nasi pecel. Lalu ditutup dengan melahap rujak buah. Nikmat sekali. Rasanya sudah tak sabar agar IKN segera difungsikan sebagai ibu kota negara.(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *