Dewi Yull Ziarahi Norbaiti

Dewi Yull ketika berziarah ke makam almarhumah Bunda Hj Norbaiti Isran di Sungai Kunjang Samarinda.

Catatan Rizal Effendi

PENYANYI dan pemeran film senior Dewi Yull beberapa hari lalu datang ke Samarinda dan Balikpapan. Misinya bukan hiburan, tapi syiar agama. Dia dibawa oleh Sahabat Dakwah Almahyra (SDA), yang berkedudukan di Cimahi, Jawa Barat.

Dari informasi di media sosial, SDA adalah tim dakwah yang aktif menyelenggarakan safari kajian, renovasi masjid, wakaf Quran serta aksi sosial di antaranya bagi-bagi beras gratis dan air bersih. Tim ini berkolaborasi  dengan berbagai pihak, termasuk Al-Azhar 30 dan  menghadirkan pemateri terkemuka seperti Habib Ahmad Al Habsy termasuk Dewi Yull dan Mommy Angie.

Di Samarinda, Dewi Yull di antaranya mengisi acara di rumah Bunda Hj  Debby di Ruko Griya Niaga, Bumi Sempaja. Hj Debby punya kelompok pengajian bernama Majelis Nurhasanah. Mereka menggelar acara bersama Dewi Yull dengan tema : “Yakin Saja dengan Skenario-Nya.”

Dewi Yull bersama Hj Debby dan Bu Mei di pengajian Majelis Nurhasanah.

Tema itu sepertinya langsung terkait dengan jalan hidup yang dialami Dewi Yull. Sangat baik untuk menginspirasi dan memotivasi  sebuah keluarga yang mengalami kekurangan atau cobaan dari Tuhan.

Saat ini, Dewi Yull dalam usia 64 tahun mengalami kebutaan mata sebelah kanan akibat ablasi retina. Kondisi ini terjadi karena minus mata yang sangat tinggi mencapai minus 25.

“Di usia saya, Tuhan ambil dan cabut satu penglihatan saya. Paru-paru saya bagus, jantung saya  alhamdulillah juga bagus. Jadi disyukurin ajalah. Ngga ada manusia yang sempurna. Robot aja ngga sempurna,” kata Dewi Yull.

Menurutnya, semua orang di keluarganya punya kondisi khusus dan mereka saling mendukung satu sama lain. “Kita itu sama-sama cacat. Kita itu sama-sama punya kelemahan. Kalau ngga pakai kacamata dulu ngga bisa melihat, jadi Surya Sahetapy (tunarungu) sama almarhum kakaknya, Gizca juga tuna rungu dan harus pakai alat bantu dengar. Kita sama-sama dari mereka kecil, sama-sama butuh alat bantu,” jelasnya.

Dewi Yull dengan nama asli Raden Ajeng Dewi Pudjijati dikenal sebagai artis empat dekade. Dia penyanyi pop sejak tahun 1977. Lagu duetnya yang terkenal bersama Broery Marantika di tahun 1995 dan 1988 adalah “Jangan Ada Dusta di Antara Kita” dan “Rindu yang Terlarang.” Berkat lagu itu dia mendapat Anugerah Musik Indonesia sebagai penyanyi duo Pop Terbaik.

Aktingnya di layar lebar juga mengesankan. Dia sempat dinominasikan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik pada FFI tahun 1985 dan 1987 ketika bermain dalam film Kembang Kertas dan Penyesalan Seumur Hidup.”

Tahun 1979, Titiek Puspa mempertemukan Dewi dengan aktor kawakan Ray Sahetapy. Lalu mereka menikah dan dikarunia 4 anak. Sayang perkawinan yang sudah berlangsung 23 tahun itu, akhirnya kandas. Mereka bercerai di tahun 2004.

Dalam acara pengajian di kediaman Bunda Hj Debby itu, banyak jamaah mengikuti program waqaf Al Quran. Mereka bersedekah dengan mendapatkan satu cetakan Kitab Al Quran. Sedekahnya bervariasi sesuai kemampuan masing-masing. “Saya bersedekah 3 juta rupiah. Ada yang sampai 5 juta,” kata Hj Meiliana atau Bu Mei, mantan Pj Sekdaprov Kaltim yang sekarang aktif di berbagai lembaga sosial.

Bu Mei menerima piagam waqaf Quran dari Hj Dewi Yull.

Menurut Dewi Yull, dana yang terhimpun dimanfaatkan SDA untuk aksi syiar Islam. Membantu pembangunan rumah ibadah, pesantren termasuk juga berbagi beras gratis dan air bersih.  

Hj Debby mengaku senang bisa mendatangkan Dewi Yull  bersama SDA. “Tentu bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran kami dalam melaksanakan syiar Islam dan memahami serta menerima apa yang digariskan Allah kepada kami. Kita yakin skenario Allah itu terbaik untuk kita,” ujarnya.

Selain di rumah Hj Debby, Dewi Yull juga melaksanakan safari dakwah di beberapa tempat. Di antaranya di Masjid Pemprov Jl Jend Sudirman Samarinda, Majelis Taklim Khairunnisa Masjid At Taqwa Muara Badak, Masjid Wika Balikpapan, Rumah Omah Daging Balikpapan, Masjid Al Ikhwan Balikpapan, Masjid Batu Ampar Lestari serta Majelis Taklim Rumah H Syahril. “Sangat pada kegiatan Bunda Hj Dewi Yull di Kaltim,” kata Bunda Mawar Yusuf, yang mendampinginya.

SERING DIUNDANG PEMPROV                                                                                                 

Hj Dewi Yull sering datang ke Kaltim. Dia salah satu penyanyi yang disukai Pemprov sejak era Gubernur Awang Faroek Ishak. Kebetulan Pak Awang suka bernyanyi, klop dengan kehadiran Dewi Yull dengan lagu-lagu lawasnya. Keakraban itu juga terjalin dengan Gubernur Isran Noor dan Ibu Hj Norbaiti Isran.

Itu sebabnya ketika berada di Samarinda kemarin, Dewi Yull menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam almarhumah Ibu Hj Norbaiti di kediaman Pak Isran di Jl Adipura, Sungai Kunjang. Dia ditemani sejumlah ibu-ibu termasuk Bu Mei.

Norbaiti meninggal dunia pada Rabu, 24 Mei 2023 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta karena sakit. Atas kesepakatan keluarga, jenazahnya dimakamkan di halaman samping rumah untuk memudahkan keluarga berziarah.

Sambil menaburkan bunga di pusaran, Dewi Yull juga memanjatkan doa agar almarhumah hidup tenang di sisi Allah SWT. “Insyaallah beliau dalam keadaan husnul khotimah,” katanya dengan suara tenang.

Semasa hidupnya, Norbaiti dikenang sebagai istri gubernur yang sangat bersahaja dan disukai banyak orang. Dia sangat aktif sebagai Ketua PKK dan Dekranasda. Juga sempat menjadi anggota DPR RI.

Sayang ketika dia berziarah, Pak Isran sudah berangkat ke Jakarta. Belakangan ini Pak Isran banyak tinggal di sana bersama anak cucunya. Beberapa hari sebelumnya Pak Isran pulang ke Samarinda di antaranya untuk memenuhi undangan Milad ke-21 Persekutuan Suku Asli Kalimantan (PUSAKA).

Isran Noor menerima potongan tumpeng dari Prof Abdunnur, ketua umum DPP PUSAKA disaksikan sejumlah tokoh di antaranya Hadi Mulyadi.

Pak Isran datang bersama mantan wakil gubernur Hadi Mulyadi. Kebetulan mereka berdua duduk sebagai Dewan Kehormatan. Ketua Umum DPP PUSAKA adalah Prof Dr Abdunnur, yang sekarang ini menjabat Rektor Universitas Mulawarman (UNMUL). Isran mendapat potongan pertama nasi tumpeng yang dilakukan Abdunnur.

“Semoga PUSAKA terus maju dan mampu berbuat terbaik untuk memperkuat persatuan masyarakat adat di Kalimantan khususnya Kaltim,” kata Isran.

Ketika akan meninggalkan acara di GOR Segiri, Isran sempat dicegat wartawan. Para wartawan memanggilnya “Kai.” Sebutan akrab untuk Pak Isran. Dia ditanya soal program Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) yang sukses dilaksanakannya dengan program Gratispol yang dikembangkan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji.

Isran Noor ketika dicegat awak media. Mereka memanggil Isran dengan ucapan “Kai.”

Gaya Pak Isran tak berubah seperti dulu. Dia sengaja memberi kesan menghindar untuk memberi jawaban. Dia lebih banyak berkata:  “Apa itu? Hah. Aku tetulian wayah ini,” katanya tersenyum. Lalu dia mengucapkan potongan kalimat untuk diterjemahkan awak media sendiri. “Mulai anak yang dikandung sampai mahasiswa S7 dapat, pokoknya,” katanya sambil meninggalkan kerumunan awak media. Sehat selalu Pak Isran.(*)

Sejumlah anak yatim piatu mendapat santunan pada Milad Ke-21 PUSAKA.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *