Buah Hutan dari Kaltim

Norlela (paling kanan) bersama teman-temannya di Jakarta melahap karantungan, lahung, durian merah, hambawang dan keledang.(Ist)

KETIKA saya menemani Pak Dahlan Iskan ke lokasi power plant Embalut, Tanjung Batu, Tenggarong seberang minggu lalu, saya mendapat surprise. Istri Pak Dahlan, Bunda Hj Nafsiah ternyata ada di sana. Beliau menyiapkan kami makanan khas Banjar.  Iwak patin dan sambal hampalam. Ampun nyaman banar.

Hampalam atau ampalam adalah varian mangga khas Kalimantan. Dulu banyak di Kaltim, tapi sekarang sudah jarang. Tapi di Banjar, Kalsel sepertinya masih ada. Malah saya kaget, seorang teman yang tur ke Brunei menemukan ada kios buah di sana yang juga jual hampalam.

Saya tidak menyangka masih ada beberapa pohon hampalam ditanam di kawasan listrik Embalut. “Ini kuputikkan untuk ikam bawa bulik,” kata Bunda Nafsiah. Malah Pak Dahlan menambahi dengan menyuruh membawa sambalnya langsung. “Bawa sekalian,” katanya.

Buah hampalam adalah mangga endemik (Mangifera indica) dari pulau Kalimantan. Menurut saya, buah ini paling cocok untuk campuran sambal atau cacapan dibanding mangga biasa. Rasanya memang lebih asam. Tapi kalau masak ada juga manisnya. Dulu saya suka sekali merujak hampalam masak.

Saya bilang kepada Pak Dahlan, banyak sekali buah khas atau hutan Kalimantan termasuk Kaltim yang semakin langka. Dari keluarga mangga, selain hampalam, ada yang dinamakan buah hambawang, kuini dan wanyi.

Hambawang (Mangifera foetida) dikenal juga dengan sebutan buah bacang atau pakel di daerah lain. Masih satu keluarga dengan mangga, memiliki aroma yang sangat harum serta bentuk buah yang bulat agak besar.

Buah hambawang.

Saat sudah matang di pohon, daging buahnya berwarna kuning terasa manis meski memiliki serat yang lebih kasar.

Tapi kalau makan hambawang harus hati-hati. Getah pada buah ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit atau bibir kita. Makanya kalau mengupas agak lebih tebal. Biar tidak terkena getahnya.

Buah wanyi juga memiliki aroma yang harum. Wanyi atau binjai (Mangifera caesia) masih kerabat dekat dengan mangga. Bentuknya lonjong seperti buah advokat. Tapi dagingnya berwarna putih dengan aroma sangat wangi, perpaduan sirsak, sukun atau mangga.

Pohon wanyi juga sulit ditemukan. Umumnya hanya berbuah 2 atau 4 tahun sekali. Kalau lagi berbuah sangat lebat. Pohonnya tinggi dan besar. Bisa ratusan bahkan ribuan buahnya bergantungan.

Dari ketiga buah itu, yang masih sering muncul di pasar adalah kuini atau kuweni (Mangifera odorata). Harumnya luar biasa. Lebih wangi dari mangga biasa. Kalau masak sangat manis. Saking manisnya, sering di dalam dagingnya ada ulat yang disebut pira meskinya kulitnya terlihat mulus.

Pira itu semacam larva dari lalat buah (Bactrocera spp) atau ulat penggerek daging buah mangga (Mango pulp weepil/Sternochetus frigidus). Kalau ada kuini, saya lebih suka makan kuini ketimbang mangga biasa. Kalau ditaruh dalam mobil, baunya menyengat.

Menikmati buah cempedak hutan yang diberi nama keledang. Warnanya oranye.

CEMPEDAK DAN DURIAN HUTAN

Hutan Kalimantan juga ditumbuhi cempedak dan durian hutan. Ada dua jenis cempedak hutan Kalimantan yaitu keledang (Artocarpus lanceifilius) dan tarap (Artocarpus elasticus). Sudah jarang dijual di pasar tradisional.

Keledang buahnya sangat menarik, karena berwarna oranye. Sedang tarap berwarna putih. Biasanya dipetik sebelum masak. Sebab kalau jatuh ke tanah langsung pecah lantaran kulitnya terbilang lembut.

Orang Ma’anyan menyebut keledang dengan nama papuan. Rasa buah keledang perpaduan rasa manis dan asam. Ada yang mendiskripsikan mirip campuran antara nangka dan manggis.

Berbeda dengan keledang yang tidak berbau, buah tarap dikenal memiliki aroma harum yang sangat kuat dan menusuk ketika matang. Daging buahnya berwarna putih dengan rasa sangat manis dan memiliki rasa yang khas di lidah.

Norlela menunjukkan buah karantungan yang disebutnya sebagai buah tutungon.

Sedang durian hutan di Kalimantan ada beberapa jenis. Yang belakangan  ini ramai diperkenalkan oleh Norlela adalah karantungan (Durio oxleyanus), yang dia sebut dia buah tutungon.

Norlela adalah konten kreator keturunan suku Dayak Bulusu yang sekarang tinggal di Jakarta. Dia berasal dari Desa Seputuk, Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Ketika pulang ke kampungnya beberapa waktu lalu, dia yang dikenal sebagai “Ratu Tembiluk” juga berburu buah-buah hutan. Di antaranya dia berhasil mendapatkan lahung, karantungan, durian merah, keledang, hambawang dan beberapa jenis lainnya.

Dia bilang karantungan adalah durian hutan yang sangat Istimewa. Buah ini meski sudah matang, warna kulitnya tetap hijau dan berduri panjang-panjang. Ukuran buahnya lebih kecil dari durian biasa.

Dagingnya berwarna kuning mentega. Teksturnya sangat lembut, halus bahkan cenderung lembek. Baunya tidak menyengat dan rasanya sangat manis legit dengan sentuhan rasa seperti caramel atau permen.

Menurut Norlela, karantungan hanya berbuah 5 tahun sekali seperti Pilkada. “Jadi yang sempat makan sangat beruntung sekali,” katanya. Dia berhasil membawa karantungan ke Jakarta dan beberapa temannya mengaku sangat terkesan memakannya.

Buah lahung yang berwarna merah maron.

Selain karantungan, ada lagi yang dinamakan dengan lahung (Durio dulcis). Warna kulitnya lebih menarik karena berwarna merah maron. Dagingnya agak tipis tapi tetap manis.

Aromanya sangat kuat dan tajam. Daging buah berwana kuning tua. Rasanya sangat manis sesuai nama ilmiahnya. Kata dulcis berarti manis. Jadi lahung dianggap salah satu durian paling manis di dunia. Sayang sekarang tidak dibudidayakan dengan baik.

Baik karantungan maupun lahung tidak bisa dibuka seperti durian mengikuti garis belahannya. Tapi langsung dibelah dua seperti kita membelah kelapa muda. Biasanya menggunakan parang atau pisau besar.

Di Kebun Raya Balikpapan, Km 15, Karang Joang, Balikpapan Utara, masih ditemukan pohon lahung. Beberapa pengunjung yang datang ke sana, ada yang sempat menikmati buah lahung. “Kami makan bersama teman-teman, ketimbang jatuh dan busuk,” kata mereka.

Para peneliti menemuka pohon lahung yang sangat besar dan tinggi.(Ist)

Keluarga durian yang masih banyak dipasarkan adalah buah lai. Malah dianggap buah dari Kabupaten Kutai. Karena itu nama ilmiahnya memasukkan nama Kutai yaitu Durio kutejensis. Arti kutejensis (Adj) adalah “berasal dari Kutai.”

Untuk menaikkan cita rasanya beberapa kultivar lai sudah beredar di masyarakat. Ada yang sudah dilepas sebagai kultivar unggul, ada juga yang belum. Di antaranya “Lai Mas, Lai Kayan, Lai Batuah dan Lai Durian.”

Saya dengar di Taman Buah Mekarsari, varitas lai sudah banyak ditanam dan malah sudah ada yang berbuah atau berproduksi.

Rambutan hutan Kalimantan yang disebut maritam.

Apakah di hutan Kalimantan ada rambutan? Ternyata ada juga. Namanya maritam (Naphelium ramboutanake). Orang Dayak menyebut buah ini dengan nama tenggaring.

Bentuk buah ini mirip dengan rambutan, tetapi memiliki kulit yang berbeda. Warna kulit buah maritam saat sudah masak berwarna  merah hati. Rasa buah maritam agak hambar bahkan cenderung masam. Tapi tetap mempunya cita rasa yang khusus.

Pak Dahlan mengaku tertarik dengan buah-buah hutan di Kalimantan. Dulu dia sempat tinggal di Samarinda, jadi sebagian mengenal dengan buah-buah tersebut. “Carikan saya bibitnya, nanti saya tanam,” katanya bersemangat.(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *