Norlela, Si Ratu Tembiluk

Norlela bersama Mei menunjukkan tembiluk yang siap dimakan.

PERNAH makan tembiluk? Saya belum pernah. Lihat bentuknya saja terbilang baru. Itupun gara-gara lihat postingan Norlela, konten kreator keturunan suku Dayak Bulusu, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Sekarang dia tinggal di Jakarta dan lagi viral.

Suku Dayak Bulusu atau suku Dayak Burusu adalah salah satu sub-suku Dayak yang mendiami wilayah Kalimantan Utara serta sebagian wilayah Sabah di Malaysia Timur dan Brunei Darussalam. Populasinya diperkirakan sekitar 25 ribu jiwa.

Norlela bersama rekan-rekannya luar biasa mengpromosikan tembiluk di TikTok. Malah dia menjajakan di Ibu Kota. Orang-orang digodanya mencoba melahap tembiluk. “Bisa pesan ke saya lewat PO – online,” katanya. Saya lihat ada juga orang lain yang menjajakan tembiluk. “Ngga apa-apa, yang penting jangan menipu atau tertipu,” kata Norlela mengingatkan.

Ratusan postingan yang dibuat Norlela menceritakan bagaimana dia mencari tembiluk di kampungnya, lalu dimakan mentah-mentah. Wajahnya menunjukkan rasa nikmat sekali. Itu sebabnya dia dijuluki “Si Ratu Tembiluk.”

Di luar dugaan cukup banyak pengikutnya. Sudah banyak yang order tembiluk ke Norlela. Sayang dia tidak menyebutkan harganya lebih detil. Informasi lain mengungkapkan harga di pasar tradisional antara 35 sampai 50 ribu rupiah per kilogram. Tapi jika pesan online, per paket bisa mencapai Rp100 ribu plus bumbu cocolannya berupa cabai, bawang, jeruk nipis dan penyedap rasa.

Norlela (kanan) mengeluarkan tembiluk dari potongan kayu yang penuh lobang-lobang.

Katanya tembiluk kaya akan protein dan lemak, serta secara turun temurun dipercaya masyarakat lokal sebagai sumber energi atau obat tradisional. Ibu-ibu di sana bilang tembiluk memperlancar air susu.  Karena ada Omega- nya, tembiluk juga mendukung kesehatan jantung dan kualitas tidur. Juga memperkuat vitalitas laki-laki. Menarik juga.

Ada yang menggambarkan tembiluk seperti cacing besar. Sebutan lain cacing kapal. Tubuhnya panjang sekitar 10 sampai 20 cm, lunak dan berlendir. Warnanya keputih-putihan seperti usus ayam. Tapi Norlela dan teman-temannya begitu enak menelannya mentah-mentah. Malah ada bule yang ikut mencoba tembiluk.

Secara ilmiah, tembiluk (Bactronophorus thoracite) adalah moluska Bivalvia. Jadi masuk keluarga kerang-kerangan).Hewan ini hidup di dalam kayu yang terendam air dan memiliki kemampuan melubangi kayu untuk membentuk tempat hidupnya.

Meski tubuhnya lembut, tapi di bagian ujung depan kepalanya terdapat dua cangkang kecil keras yang berfungsi seperti mata bor untuk melubangi kayu. Itu sebabnya dia bisa masuk dan hidup di dalam kayu yang keras.

Dari berbagai rilis menjelaskan, tembiluk disebutkan bersarang di batang kayu lapuk yang terendam di perairan payau termasuk kawasan bakau. Perairan payau adalah kawasan pertemuan air laut dengan sungai air tawar, jadi airnya setengah asin.

Saya tidak terlalu jelas apakah sungai atau perairan di kampung Norlela, Desa Seputuk, Kecamatan Muruk Rian adalah perairan air payau atau sungai biasa. Tapi dia pernah mengatakan di salah satu kontennya, bahwa tembiluk bisa bersarang di kayu apa saja, kecuali kayu ulin. Dia juga mendapatkan tembiluk dari batang kayu rambutan, langsat dan tarap yang terendam.

Menurut Norlela, tembiluk di kayu tarap dan langsat lebih enak. Terasa seperti makan sumsum sapi. Sedang tembiluk di kayu langsat terasa ada bau tanah dan kayunya.

Tembiluk yang sudah dimasak dan siap dimakan dengan cacapan lombok dan jeruk nipis.

MAKAN MENTAH ATAU DIMASAK?

Apakah aman tembiluk dimakan mentah-mentah? Norlela dalam postingannya menunjukkan dia aman-aman saja makan tembiluk yang tidak dimasak. Yang penting katanya, dicuci bersih. Saya lihat Norlela dengan pede-nya makan tembiluk yang baru saja dikeluarkan dari batang kayu.

Sepertinya tak ada bau anyir. “Enak, seperti kita makan kerang,” katanya dengan mantap. Rasa tembiluk itu campuran gurih, sedikit manis dengan sentuhan rasa yang mirip oyster (tiram) mentah.

Para pemburu tembiluk tahu betul kayu-kayu yang terendam berpotensi ada tembiluk. Kayu-kayu itu ditarik ke darat, lalu dipotong-potong. Nah di dalamnya terlibat banyak lobang tempat bersarangnya sang tembiluk.

Norlela (kanan) mengeluarkan tembiluk dari potongan kayu yang penuh lobang-lobang.

Para ahli kesehatan dan dokter tetap mengingatkan adanya risiko kontaminasi bakteri patogen. Apalagi jika air di habitatnya tercemar, makan tembiluk mentah berpotensi membawa bakteri yang tidak baik untuk tubuh.

Selain itu, lingkungan kayu yang membusuk dan lembap juga memicu kontroversi mengenai risiko adanya larva cacing atau parasit lain yang menempel pada tubuh tembiluk.

Karena itu ada saran untuk tetap mendapatkan kandungan gizinya yang tinggi (seperti protein dan omega-3) tanpa membahayakan kesehatan, lebih baik tembiluk dimasak. Bisa digoreng, dibakar atau ditumis dengan cabai jauh lebih aman karena suhu panas efektif membunuh bakteri dan parasit.

Apakah tembiluk halal? Ada fatwa di Serawak yang menyatakan tembiluk itu halal. Mereka menilai semua hewan yang hidup di air pada umumnya halal, kecuali yang hidup di dua alam.

Norlela bersama penari suku Dayak Bulusu, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Selain memperkenalkan tembiluk, Norlela juga banyak memposting dan memperkenalkan buah-buahan dari hutan Kalimantan. Tapi yang saya kaget, dia juga pintar memasak dan memakan binatang berbisa seperti ular. “Suku kami sudah biasa memakan  daging ular,” katanya mantap. Wah tembiluk saja saya masih bergidik apalagi kalau melahap daging ular. Ampun.(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *